Jumat, 18 November 2011

HUBUNGAN PUASA DAN KESEHATAN




Iftitah
Pada edisi ke-delapan kita telah membahas tentang puasa ditinjau dari segi fiqh Islam (hukum Islam). Pada edisi ke-sembilan kita akan membahas puasa dari segi kesehatan. Sebab salah satu hikmah puasa adalah untuk menyehatkan badan. Sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Shina (980-1037 M), seorang dokter muslim yang menjadi Bapaknya ilmu kedokteran di Barat, selalu mengharuskan setiap pasien yang datang kepadanya untuk berpuasa selama tiga minggu. Bagi Ibnu Shina yang di dunia Barat terkenal dengan Avicena, puasa merupakan terapi efektif dan murah meriah dalam menyembuhkan pasien-pasiennya. Maka pantas kalau Rasulullah bersabda, “Puasalah kamu, maka akan sehat”

Puasa dan kesehatan

Daya tahan manusia dengan tidak adanya makanan dan minuman yang masuk ketubuhnya cukup besar. Manusia sehat dapat bertahan selama dua minggu, meskipun tanpa makanan sama sekali, asal tetap minum air. Sedangkan jika tidak makan dan minum sama sekali, ia dapat bertahan selama seminggu. Kalau hanya menahan makan dan minum selama dua belas jam saja, pengaruh buruknya terhadap kesehatan praktis tidak ada sama sekali. Para peneliti telah melakukan penelitian terhadap sejumlah gejala dan tindak kejiwaan dari puasa, mereka mencoba untuk menemukan pengaruh puasa pada sel-sel tubuh manusia, apa yang terjadi pada sel-sel otak dan sel-sel tubuh lainnya.
Terhadap tubuh / jasmani puasa memberikan pengaruh yang positif terhadap kesehatan, antara lain :
1.     Pemeliharaan tubuh dari sisa-sisa dan kelebihan zat tubuh dan sel.
Dalam keadaan puasa tubuh akan menggunakan zat-zat makanan yang tersimpan. Sekiranya zat makanan tersebut habis, maka mulailah digunakan atau dioksidasi jaringan-jaringan tertentu. Bagian tubuh yang paling pertama digunakan adalah bagian yang terlemah atau sakit seperti jaringan dengan peradangan atau penanahan. Dari jaringan tersebut yang pertama diproses adalah jaringan yang rusak atau telah tua, uantuk selanjutnya dikeluarkan oleh tubuh. Puasa dalam hal ini bertindak sebagai operasi yang membuang sel-sel yang rusak atau lemah dari bagian tubuh yang sakit, selanjitnya memberi kesempatan kepada peremajaan sel-sel sehingga lebih aktif.

2.     Melindungi manusia dari penyakit gula.
Pada waktu puasa kadar gula akan turun, Hal ini menyebabkan kelenjar pankreas berkesempatan untuk istirahat. Kita mengetahui fungsi kelenjar ini adalah untuk menghasilkan hormon insulin. Hormon ini berfungsi mengatur kadar gula dalam darah, merubah kelenjar gula menjadi glikogen yang disimpan sebagai cadangan diotot dan di hati. Penelitian medis terhadap orang yang berpuasa di bulan Romadhon pernah dilakukan oleh Muazzam dan Khaleque yang dilaporkan dalam majalah Journal of Tropical Medicine pada 1959. Juga oleh Chassin dan Hubert yang dilaporkan dalam majalah Journal of  Physiology pada 1968.
Mereka menemukan bahwa tidak ada perubahan kadar unsur kimia dalam darah orang berpuasa selama bulan Romadhon. Kadar gula darah memang menurun lebih rendah dari pada biasanya pada saat-saat menjelang maghrib, tetapi tidak sampai membahayakan kesehatan.

3.     Menyehatkan sistem pencernaan.
Diwaktu puasa lambung dan sistem pencernaan lainnya akan istirahat selama lebih kurang 12 sampai 14 jam, selama lebih kurang satu bulan. Jangka waktu ini cukup mengurangi beban kerja lambung dari makanan yang bertumpuk dan berlebihan. Kadar asam lambung akan lebih meningkat pada saat menjelang maghrib di hari-hari pertama berpuasa, tetapi selanjutnya akan kembali menjadi Pnormal. Barangkali itu pula sebabnya puasa diwajibkan hanya kira-kira 12 jam saja.
 
4.     Puasa mengurangi berat badan yang berlebih.
Puasa dapat menghilangkan lemak dan kegemukan, secara ilmiah diketahui bahwa rasa lapar tidaklah karena kekosongan perut dari makanan semata tapi juga dipengaruhi penurunan kadar gula dalam darah.
Oleh karena itu dianjurkan berbuka dengan sesuatu yang manis terlebih dahulu, sehingga bisa mengurangi makan yang berlebihan pada waktu berbuka, sehingga tidak menghilangkan hikmah puasa yang mengharuskan hemat, zuhud dan melatih nilai rohani. (Dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar