Tampilkan postingan dengan label untuk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label untuk. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Desember 2011

Permohonan Bantuan Untuk Kemajuan Taman Bacaan "Cintamaju"




Perihal: Permohonan Bantuan

Kepada Yth.
Para Netter dan Para Dermawan
Di
TEMPAT

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Teriring salam dan do’a semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan Taufiq dan Hidayah-Nya kepada kita semua dan senantiasa diberikan kesuksesan dalam menjalankan aktifitas keseharian. Amiin.

Dalam upaya meningkatkan minat membaca dan peningkatan kualitas intelektual masyarakat, Maka kami pengurus Taman Bacaan Masyarakat (TBM) “Cintamaju” Dusun Cintamaju RT.06 RW.02 Desa Tunggilis Kecamatan Kalipucang Kabupaten Ciamis sangat membutuhkan bantuan berupa dana dan buku-buku untuk kemajuan taman bacaan tersebut.

Demikian surat permohonan ini kami sampaikan, atas perhatian dan bantuannya diucapkan terima kasih.

Billahittaufiq Wal Hidayah,
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.


IDENTITAS LEMBAGA:

Nama Lembaga           : TAMAN BACAAN MASYARAKAT (TBM) CINTAMAJU
Alamat                         : Dusun Cintamaju RT.06 RW.02 Desa Tunggilis
  Kecamatan Kalipucang Kabupaten Ciamis Propinsi Jawa Barat 46397
E-Mail                         : tbm.cintamaju@gmail.com
Telp.                            : 085223172707

Rekening Bank           : Bank BJB Cabang Ciamis
                                    No. Rekening           : 0010349273100
Atas Nama               : Taman Bacaan Masyarakat Cintamaju

 
Legalitas Lembaga      : Nomor 23 Tanggal 07 April 2011
  Notaris: Nevie Alifah Assegaf, SH.MH.
 
NPWP                         : 31.306.815.7-442.000
  a.n: TAMAN BACAAN MASYARAKAT CINTAMAJU


Atas segala bantuannya, kami ucapkan Jazaakumullaahu Khairan Katsiiran Semoga amal baik Bapak/Ibu/Sdr. mendapat balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT. Amiin..

Jumat, 09 Desember 2011

Organisasi Mahasiswa Sebagai Salah Satu Alternatif Untuk Mengubah Paradigma Berfikir


Organisasi Mahasiswa Sebagai Salah Satu Alternatif
Untuk Mengubah Paradigma Berfikir


Abstract
Historically the University student never die to demonstrate their responsibility to the wherever and whenever community. Their Responsibility is progressive reflection to make a social change that give contribution for social  order. To realize it, they have been building the synergy in the university student organization. But the problem in the  university student activity is   paradigm of thinking  that  implicates to the stagnation. This paper deals with some aspects that give impact to it and how to gain it solution.

Keyword : university student--paradigm of thinking

Preface
Mahasiswa adalah sebutan bagi mereka yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi baik swasta maupun negeri. Karena telah lebih lama mendapatkan pendidikan sejak pendidikan dasar, menengah, dan  sampai perguruan tinggi maka banyak orang menilai mahasiswa sebagai kaum intelektual atau kaum akdemisi. Juga karena telah lebih dulu mengenyam pendidikan di perguruan tinggi atau universitas maka mahasiswa pasti diperlakukan berbeda dari pada siswa.
Karakter yang biasa diidentikan dengan mahasiswa setidak-tidaknya dibangun di atas tiga landasan. Pertama, psikologi orang muda yang senantisa progresif dalam mencari dan menemukan jatidiri. Kedua, Idealisme karena keyakinan terhadap nilai-nilai dasar dan komitmen untuk mewujudkannya. Ketiga, intelektualitas yang menjadi kontruksi atau kerangka dari sistem cita-cita sehingga segenap sikap maupun tindakannya tidak sekedar perilaku basa-basi atau aktivisme hampa.[1] Ketiga hal itulah yang menjadi support bagi sikap dan tindakan mahasiswa untuk peduli dan mempunyai responsibilitas yang tinggi    (high responsibility) terhadap masyarakatnya. Sejarah kemahasiswaan di Indonesia telah memberikan fakta yang otentik bahwa support itulah yang telah melahirkan daya dobrak atau daya dorong yang efektif bagi sikap-sikap kepeloporan yang diperankan mahasiswa dalam proses pembaruan. Pada saat terjadi kemandegan atau problem sosial yang membutuhkan peranan mahasiswa maka pada saat itulah mahasiswa tampil dan mencatatkan sejarahnya. Sebut saja peristiwa Rengasdengklok, Ampera, Reformasi dan peristiwa-peristiwa lain yang terjadi dalam kilasan sejarah Indonesia kita.
Fenomena gerakan mahasiswa yang telah bergulir secara histories adalah gerakan yang wajar adalah refleksi dari  progresivitas batinnya. Gerakan yang mendemontrasikan kepedulian dan tanggung jawabnya terhadap masyarakat. Gerakan mahasiswa adalah gerakan untuk mengeliminir berbagai problem sosial yang telah berimplikasi terhadap kebodohan, keterbelakangan (backwardness), dan keterpurukan generasi.
Gerakan-gerakan mahasiswa yang berdiri dalam popularitasnya ternyata tidak bisa seluruhnya membebaskan diri virus statisme dan afatisme intelektual yang berdampak pada stagnasi. Virus ini menyerang, membabibuta, dan mewabah pada jiwa mahasiswa di pusat maupun di daerah negeri maupun swasta.

Menggagas Perubahan Paradigma Berfikir
            Manusia termasuk di dalamnya mahasiswa akan bertindak sejalan dengan apa yang terfikirkan. Logikanya jika system berfikirnya benar maka tindakannya juga benar, jika berfikirnya beres maka tindakanya juga akan beres pendek kata tindakan adalah buah dari apa yang terfikirkan atau difikirkan.[2] Tindakan berupa gerakan-gerakan sosial yang dilakukan mahasiswa dengan demikian merupakan manifestasi dari apa yang ada difikirannya. Jika yang ada di fikiran mahasiswa adalah nilai IPK yang tinggi maka tindakannya adalah belajar terus di kamar kost, perpustakaan, kampus, dan tempat lain yang mendukung. Jika yang terfikir adalah kerja maka tindakannya adalah mencari informasi lowongan kerja, membuat surat lamaran kerja, magang, dan training di Balai Latihan Kerja (BLK). Mahasiswa yang berfikir fun/hiburan maka tindakannya adalah refreshing, climbing, dan clubing. Demikian juga mahasiswa yang dalam fikirannya kritis terhadap kondisi sosial sekitarnya maka tindakannya adalah advokasi/pendampingan, audensi, demonstrasi, dan presentasi konsep kepada para pengambil kebijakan. Dengan demikian maka mahasiswa yang berfikir kompleks ( menggabungkan apa yang  ada) maka tindakannya akan kompleks pula.
            Secara proporsional yang harus diakui adalah perlunya perubahan paradigma berfikir yang nantinya dengan perubahan paradigma berfikir itu mahasiswa dapat memiliki spirit untuk eksis kapan dan di manapun ia berada sekaligus mempersiapkan atau membekalinya untuk hidup bersama masyarakat. Kerja-kerja untuk menggulirkan perubahan paradigma berfikir mahasiswa dapat dilakukan oleh organisasi mahasiswa.      ( tidak ada segregasi antara organisasi internal dan eksternal)
            Merujuk pada paradigma profetiknya Kuntowijoyo[3] ada tiga pijakan agar kita bisa melakukan perubahan paradigma berfikir. Pertama, pijakan berupa dimensi transendensi. Pada dimensi ini aspek theologia menjadi penting untuk diformulasikan kembali mengingat daya dorong transendensi menjadi pendobrak dan pemicu yang sangat dahsyat. Secara Historis sebagaimana di kemukakan Max Weber kita bisa melihat bahwa semangat kapitalisme kaum protetstan terutama aliran calvinisme beberapa level lebih tinggi ketimbang kaum katolik. Dalam penilaian weber ini disebabkan oleh system kepercayaan yang dianut oleh kaum protestan lebih dapat menimbulkan daya gerak daripada system kepercayaan kaum katolik. Senada dengan Weber, Robert N. Bellah mengatakan bahwa keberhasilan Bangsa Jepang  sampai sekarang karena dipengaruhi oleh agama Tokugawa yang dianutnya. Semangat bangsa Indonesia yang kurang juga dipengaruhi oleh teologinya yang secara mayoritas berteologi Asy’ari.[4]
            Mahasiswa juga perlu memformulasikan atau menyusun kembali system teologi yang di anutnya. Kesempurnaan intelektualitas mahasiswa adalah dia memiliki system teologi yang mampu menghasilkan daya dobrak yang tinggi terhadap berbagai ketimpangan sosial. Mahasiswa harus mendasarkan setiap aktivitas berfikir dan bertindaknya pada dimensi transendensinya. Karl Marx yang tidak mendasarkan gagasannya pada dimensi ini saja bisa melahirkan sebuah gerakan sosial politik yang sampai hari ini tetap popular kenapa kita yang memiliki kekayaan transendensi masih tertinggal.
            Kedua, humanisasi. Memanusiakan manusia. Realitas ini harus dipahami bahwa perlunya kesadaran yang optimal di kalangan mahasiswa untuk melawan segala bentuk dehumanisasi (tindakan yang tidak menempatkan manusia sebagai manusia). Bentuk-bentuk tindakan dehumanisasi termasuk di antaranya mengekang kebebasan berfikir mahasiswa, membelenggu kreativitas mahasiswa, menjegal partisipasi mahasiswa dan sebagainya.
            Ketiga, liberasi. Implikasi dari humanisasi adalah munculnya daya dorong untuk membebaskan diri dan masyarakat dari situasi dan kondisi yang tidak kondusif.  Membebaskannya dari belenggu kebodohan, keterpurukan, dan keterbelakangan.
            Integrasi dari ketiga dimensi tersebut dapat mengubah paradigma berfikir mahasiswa dan mengejawantahkannya dalam praksis atau tindakan. Sistematika paradigma prifetik tersebut mewakili alur sistematis dari teologi yang berderivasi pada ideology dan sosiologi praksis.

Peranan Organisasi Mahasiswa
            Ide perubahan hanya muncul dari mereka yang peduli perubahan. Perubahan secara sistematis tidak akan terjadi kecuali jika ada pemicu (trigger) dan desainer perubahan. Mahasiswalah di antaranya yang memiliki kemampuan untuk merekayasa dan mendesain perubahan agar sejalan sesuai dengan yang direncanakan (planned social change). Secara personal hanya sedikit saja yang bisa dilakukan mahasiswa karena itu agar banyak hal yang bias dilakukan termasuk di dalamnya melakukan perubahan sosial dari aspek paradigma berfikir mahasiswa, diperlukan adanya organisasi mahasiswa.
            Setidaknya ada beberapa peran yang bisa dioptimalkan oleh organisasi mahasiswa untuk mengubah paradigma berfikir mahasiswa di antaranya : Pertama,  penguatan intelektual, di antara syarat orang bisa eksis adalah karena informasi berupa ilmu pengetahuan yang diperolehnya. Kemudahan dan kecepatan mengakses informasi adalah modal untuk merespon setiap perkembangan yang terjadi meliputi sosial, budaya, politik, hukum dan HAM dan sebagainya. Organisasi mahasiswa yang menyediakan kemudahan mengakses informasi biasanya akan terus eksis dan tidak ketinggalan moment dan pasti dibutuhkan oleh kader dan masyarakat. Lebih lanjut materi informasi akan membuat anggota organisasi mahasiswa memiliki khazanah intelektual yang secara bertahap akan berkembang dan maju. Khazanah intelektual yang berbasis transendensi, humanisasi, dan liberasi. Kedua, melatih responsifitas terhadap kondisi sosial. Informasi yang masuk atau diterima akan disikapi sesuai dengan kapasitas masing-masing mahasiwa yang implikasinya akan melahirkan tindakan yang variatif. Untuk itu organisasi mahasiswa dapat melihat fenomena ini dan menyatukan atau menyamakan persepsi dalam merespon atau menindaklanjutu informasi. Sehingga gerakan yang dilakukan merupakan buah komunikasi efektif  yang konseptual dan sistematis. Ketiga, mampu mengakomodir kepentingan-kepentingan mahasiswa yang sedang mempersiapkan hidup di masyarakat.

Endnote
            Mahasiswa sebagai kaum yang tercerahkan selalu dinanti kontribusi dan karyanya yang bermanfaat bagi masyarakat. Karyanya bisa berupa karya fisik maupun karya jasa bagi kemaslahatan baik dengan partisipasi dalam formulasi dan implementasi kebijakan maupun dalam pengawasannya. Di manapun harus kita buktikan bahwa pantang daerah yang ada komunitas mahasiswanya menjadi daerah yang terbelakang dan termarginalkan.
Yakin usaha sampai.





[2] Untuk memperkaya khazanah intelektual dalam bidang filsafat manusia bisa dibaca pada buku-buku Filsafat seperti Falsafatuna karya  Muh. Baqir Ash-Shadr, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 1991 atau Mengapa Kita diciptakan karya Murtadha Muthari, Lentera, Jakarta. 2001
[3] Kilasannya dapat pula dibaca pada buku Pendidikan Berparadigma Profetik karya Moh. Shofan, UMG Press, Gresik, 2004 hlm 71-98.
[4] Lihat Karya Herman Soewardi, Kognisi-Karsa-Nalar yang mengelaborasi kelemahan-kelemahan umat Islam Indonesia.
[5] Makalah disampaikan pada acara Tamada IAID 17 September 2005 di Aula Jend. Soedirman Darussalam Ciamis
[6] Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ciamis 2005-2006
[7] Lihat dalam buku Jangan Mati Reformasi, HMI dan Ikhiar sejarah Menuju Indonesia Baru yang ditulis oleh Anas urbaningrum, Yayasan Cita mandiri Indonesia, Jakarta, th. 1999 hlm. 35-36
[8] Untuk memperkaya khazanah intelektual dalam bidang filsafat manusia bisa dibaca pada buku-buku Filsafat seperti Falsafatuna karya  Muh. Baqir Ash-Shadr, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 1991 atau Mengapa Kita diciptakan karya Murtadha Muthari, Lentera, Jakarta. 2001
[9] Kilasannya dapat pula dibaca pada buku Pendidikan Berparadigma Profetik karya Moh. Shofan, UMG Press, Gresik, 2004 hlm 71-98.
[10] Lihat Karya Herman Soewardi, Kognisi-Karsa-Nalar yang mengelaborasi kelemahan-kelemahan umat Islam Indonesia.

Selasa, 22 November 2011

Saudariku Apa yang Menghalangimu untuk Berhijab?



"Dan demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwannnya. " (Asy Syams: 7-8 )
Manusia diciptakan oleh Allah dengan sarana untuk meniti jalan kebaikan atau jalan kejahatan. Allah memerintahkan agar kita saling berwasiat untuk mentaati kebenaran, saling memberi nasihat di antara kita dan menjadikannya di antara sifat-sifat orang yang terhindar dari kerugian.
Sebagaimana disebutkan dalam surat Al 'Ashr, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjelaskan bahwa kewajiban kita terhadap sesama adalah saling menasihati.
Beliau bersabda:
"Orang mukmin adalah cermin bagi orang mukmin lainnya " (Diriwayatkan oleh Thabrani dalam "Al Autsah" dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shah Jami'ush Shaghir, hadits no. 6531)
Dengan kata lain, seorang mukmin bisa menyaksikan dan mengetahui kekurangannya dari mukmin yang lain. Sehingga ia laksana cermin bagi dirinya. Tetapi cermin ini tidak memantulkan gambar secara fisik melainkan memantulkan gambar secara akhlak dan perilaku. Islam juga --sebagaimana dalam banyak hadits—menganjurkan dan mengajak pemeluknya agar sebagian mereka mencintai sebagian yang lain. Di antara pilar utama dari kecintaan ini, hendaknya engkau berharap agar saudaramu masukSurga dan dijauhkan dari Neraka. Tak sebatas berharap, namun engkau harus berupaya keras dan maksimal urituk menyediakan berbagai sarana yang menjauhkan saudaramu dari hal-hal yang membahayakan dan merugikannya, di dunia maupun di akhirat.
Hal-hal di atas itulah yang melatar belakangi buku sederhana ini kami hadirkan. Selain itu, kecintaan dan rasa kasih sayang kami kepada segenap remaja puteri di seluruh dunia Islam. Tentu,juga keinginan kami untuk menjauhkan mereka dari bahaya dan kerugian di dunia maupun di akhirat.
Lebih khusus, buku ini kami hadirkan untuk segolongan kaum muslimah yang belum mentaati perintah berhijab ('Hijab: Maksudnya, busana wanita muslimah yang menutupi seluruh bagian tubuhnya dari kepala hingga telapak kaki, hijab tersebut mempunyai syarat-syarat tertentu. (lihat him.66 )
seperti yang diperintahkan syariat. Baik karena belum mengetahui bahwa hijab adalah wajib, karena tidak mampu melawan tipu daya dan pesona dunia, karena takluk di hadapan nafsu yang senantiasa memerintahkan keburukan atau tunduk oleh bisikan setan, karena pengaruh teman yang tidak suka kepada kebaikan bagi sesama jenisnya atau karena alasan-alasan lain.
Kami memohon kepada Allah semoga uraian dalam buku sederhana ini menjadi pembuka hati yang terkunci, menggetarkan perasaan yang tertidur, sehingga bisa mengembalikan segenap akhawat yang belum mentaati perintah ber-hijab, kepada fitrah yang telah diperintahkan Allah Subhanahu Wata'ala.
SYUBHAT DAN SYAHWAT
Setan bisa masuk kepada manusia melalui dua pintu utama, yaitu syubhat dan syahwat. Seseorang tidak melakukan suatu tindak maksiat kecuali dari dua pintu tersebut. Dua perkara itu merupakan penghalang sehingga seorang muslim tidak mendapatkan keridhaan Allah, masuk Surga dan jauh dari Neraka. Di bawah ini akan kita uraikan sebab-sebab utama dari syubhat dan syahwat.

Rabu, 16 November 2011

Etika Global untuk Masyarakat Global



Fenomena tersebut tidak melulu dalam pengertian ekonomi. Globalisasi juga berdimensi politik, teknologi, budaya dan keagamaan. Akan sangat keliru, jika menganggap globalisasi hanya berkaitan dengan sistem-sistem besar, seperti tatanan perekonomian dunia. Globalisasi bukan soal apa yang ada "di luar sana", terpisah langsung, dan jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia juga merupakan fenomena "di sini", yang langsung mempengaruhi sistem kepercayaan dan kehidupan kita.
Dengan kian merebak dan canggihnya teknologi media, memungkinkan sebuah masyarakat menyaksikan bentuk-bentuk kehidupan dan sistem kepercayaan lain yang berbeda. Sebuah masyarakat juga menyaksikan masyarakat lain dalam macam-macam gaya hidup, orientasi keagamaan yang berlainan, ragam etnis-suku bangsa, perbedaan bahasa dan sebagainya. Bahkan, bukan itu saja, globalisasi seperti yang diungkapkan Anthony Giddens juga merupakan efek jarak jauh (time-space distanciation). Maksudnya, apa yang terjadi pada satu belahan bumi, bisa terjadi efek pada belahan bumi yang lain. Misalnya, teror bom di Bali dengan serta merta mempengaruhi dunia kehidupan masyarakat di belahan bumi lainnya. Pada intinya, kehidupan masyarakat global saat ini dihadapkan pada pluralitas kebudayaan yang saling mempengaruhi, yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Saling pengaruh di antara ragam kebudayaan, jika tidak dikelola dengan baik, akan menimbulkan konflik yang hebat, berkepanjangan dan susah dihentikan. Seperti yang disinyalir oleh Samuel Huntington, garis-garis batas dalam dunia mutakhir (dunia era pasca-Perang Dingin) tidak berasal dari politik atau ideologi, melainkan kebudayaan. Dalam karyanya yang kontroversial ‘The Clash of Civilization" (1993), Huntington berpendapat bahwa ikatan sekelompok masyarakat modern semakin ditentukan oleh warisan agama, bahasa, sejarah, dan tradisi yang mereka miliki bersama atau yang disebut sebagai peradaban.
Tatkala perjumpaan peradaban satu dengan yang lainnya, melalui globalisasi, tidak berkembang secara adil, dan tidak ada saluran komunikasi, maka benih-benih permusuhan kian menggumpal dan siap meledak. Buat kebanyakan orang yang tinggal di luar Eropa dan Amerika Utara, globalisasi terkesan tidak menyenangkan, seperti Westernisasi atau mungkin Amerikanisasi. Ketika muncul peradaban yang dominan dan dirasakan menindas oleh peradaban yang lain, kemungkinan terjadi "benturan peradaban" (Clash of Civilization) saat mungkin.
Namun, konflik-konflik dalam dunia modern tidak hanya antar peradaban, bahkan dalam peradaban yang sama bisa terjadi konflik. Menurut Kenichi Ohmae, dalam peradaban yang sama, masyarakat sering berperang di antara mereka masing-masing. Misalnya, konflik di Irlandia Utara antara penganut Protestan dan Katolik, bukan merupakan alasan yang tepat untuk menyatakan kebencian yang mendalam, karena sama-sama Kristen. Contoh lain, akan sulit menjelaskan konflik di Ambon, di mana masyarakatnya berada dalam tradisi dan suku yang sama. Perbedaan keyakinan dalam masyarakat Ambon, antara Islam dan Kristen, bukanlah perbedaan besar, karena pada intinya sebenarnya kedua agama itu samapunya tradisi dan akar sejarah yang sama: semitik.
Dalam bukunya yang berjudul The End of Nation State (1995), Ohmae berpendapat bahwa perang biasanya terjadi ketika para pemimpin politik menonjolkan perbedaan-perbedaan kecil secara tajam seraya menciptakan kebencian latenbukan ketika antar peradaban saling berbenturan, sebagaimana dinyatakan Huntington. Seakan menyanggah tesis Huntington, Kenichi Ohmae berpendapat bahwa konflik-konflik terjadi lebih disebabkan oleh para pemimpin politik yang kolot yang melibatkan rakyat untuk melakukan konfrontasi bersenjata.
PERSOALANNYA adalah, bagaimana memikirkan kelangsungan kehidupan masyarakat global saat ini dan di masa depan? Bukahkah intensitas konflik-konflik dalam masyarakat global kian meningkat, sangat rawan dan terkesan tak terkendali. Bukankah kehidupan masyarakat global kian tercabik-cabik dengan begitu sering konflik-konflik di antara mereka. Apa yang memungkinkan kohesi sosial (nilai-nilai pengikat) dalam masyarakat global, yang di dalamnya terdapat beraneka ragam pluralitas, bisa diupayakan?
Seiring dengan peralihan dari masyarakat tradisional yang relatif homogen ke masyarakat global yang pluralistik, terjadilah krisis legitimasi yang luar biasa di dalam masyarakat global tersebut. Krisis legitimasi dalam pengertian bahwa tatanan legitim masyarakat tradisional sebuah tatanan masyarakat yang didasarkan pada sebuah sistem kepercayaan atau agama mulai kehilangan validitasnya.
Akan muncul tendensi perlawanan jika sebuah masyarakat coba diatur dengan dan oleh aturan masyarakat lain. Akan lebih kacau lagi jika setiap kelompok masyarakat memaksakan sistem kepercayaannya sebagai yang "paling benar" untuk mengatur masyarakat dunia.
Oleh karena itu, diperlukan sebuah visi besar untuk mengawal perkembangan masyarakat global saat ini dan di masa depan. Seorang teolog besar abad ini, Hans Kung, mengajukan sebuah visi besarnya tentang etika global. Dalam karyanya yang berjudul A Global Ethics for Global Politics and Economics (1997), Hans Kung menyatakan tak akan ada tatanan baru tanpa sebuah etika dunia yang baru; sebuah etika global. Ia mendefinisikan etika global sebagai sebuah konsensus dasar tentang nilai-nilai pengikat dan sikap dasar yang dikukuhkan oleh semua sistem kepercayaan (agama) meskipun terdapat perbedaan dogmatis, dan yang sesungguhnya bisa juga disumbangkan oleh kaum non-beriman (ateis).
Dalam kehidupan masyarakat global, menurut Hans Kung, konsensus berarti kesepakatan yang memerlukan standar etika fundamental (nilai-nilai universal) yang meskipun terdapat banyak perbedaan wujudnya dalam agama, bentuk-bentuk kehidupan, budaya, politik, namun dapat diposisikan sebagai basis terkecil bagi kehidupan masyarakat yang pluralistik. Sebuah konsensus global dimungkinkan terwujud di atas moralitas dasar yang membatasi dirinya hanya pada beberapa tuntutan fundamental (nilai-nilai universal); seperti kebenaran, keadilan, kemanusiaan, dan semacamnya. .
Tentu saja, nilai-nilai universal dalam sebuah konsensus global tidak bersifat subjektif (monologal). Artinya, kebenaran dalam sebuah konsensus tidak bisa didasarkan pada klaim kebenaran yang sifatnya subjektif atau kebenaran yang dipikirkan sendiri. Menurut Jurgen Habermas, orang tidak boleh menganggap klaim kebenarannya sebagai kebenaran yang sudah selesai yang mengatasi hubungan-hubungan sosial (FB Hardiman: 2002). Karena kebenaran yang sifatnya subjektif bisa mentotalisir atau fasis, seperti yang dilakukan oleh Hitler dan Musollini.
Jadi, kebenaran dalam sebuah konsensus, seperti yang dikatakan Habermas, bersifat intersubjektif (dialogal). Melalui dialog yang bebas dominasi, jujur dan terbuka, nilai-nilai konsensus sebagai etika global dapat dikukuhkan. Tanpa etika global, cepat atau lambat masyarakat modern terancam konflik-konflik dan kekacauan.
Namun, harus juga disadari bahwa etika global ini bukanlah obat mujarab yang langsung memberikan solusi bagi persoalan dunia. Setidaknya, etika global memberi tuntutan dan dasar moral bagi individu maupun tatanan global yang lebih baik. Hans Kung juga tidak naif, bahwa tuntutan etika global ini bukan main sulitnya untuk mahkluk rasional sekalipun. Tetapi, menurut dia, harus ada tuntutan semacam itu dalam dialog yang riil dalam masyarakat global. Kalau tidak, dialog akan jatuh pada perspektif etnosentris, entah agama, ras, bangsa, dan kelompok-kelompok kepentingan. Jadi, etika global dalam masyarakat global merupakan keniscayaan. 
Eko Wijayanto, Peneliti di Paramadina, dan Koordinator Program Studi Islam Paramadina