Tampilkan postingan dengan label SEBAGAI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEBAGAI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Desember 2011

Organisasi Mahasiswa Sebagai Salah Satu Alternatif Untuk Mengubah Paradigma Berfikir


Organisasi Mahasiswa Sebagai Salah Satu Alternatif
Untuk Mengubah Paradigma Berfikir


Abstract
Historically the University student never die to demonstrate their responsibility to the wherever and whenever community. Their Responsibility is progressive reflection to make a social change that give contribution for social  order. To realize it, they have been building the synergy in the university student organization. But the problem in the  university student activity is   paradigm of thinking  that  implicates to the stagnation. This paper deals with some aspects that give impact to it and how to gain it solution.

Keyword : university student--paradigm of thinking

Preface
Mahasiswa adalah sebutan bagi mereka yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi baik swasta maupun negeri. Karena telah lebih lama mendapatkan pendidikan sejak pendidikan dasar, menengah, dan  sampai perguruan tinggi maka banyak orang menilai mahasiswa sebagai kaum intelektual atau kaum akdemisi. Juga karena telah lebih dulu mengenyam pendidikan di perguruan tinggi atau universitas maka mahasiswa pasti diperlakukan berbeda dari pada siswa.
Karakter yang biasa diidentikan dengan mahasiswa setidak-tidaknya dibangun di atas tiga landasan. Pertama, psikologi orang muda yang senantisa progresif dalam mencari dan menemukan jatidiri. Kedua, Idealisme karena keyakinan terhadap nilai-nilai dasar dan komitmen untuk mewujudkannya. Ketiga, intelektualitas yang menjadi kontruksi atau kerangka dari sistem cita-cita sehingga segenap sikap maupun tindakannya tidak sekedar perilaku basa-basi atau aktivisme hampa.[1] Ketiga hal itulah yang menjadi support bagi sikap dan tindakan mahasiswa untuk peduli dan mempunyai responsibilitas yang tinggi    (high responsibility) terhadap masyarakatnya. Sejarah kemahasiswaan di Indonesia telah memberikan fakta yang otentik bahwa support itulah yang telah melahirkan daya dobrak atau daya dorong yang efektif bagi sikap-sikap kepeloporan yang diperankan mahasiswa dalam proses pembaruan. Pada saat terjadi kemandegan atau problem sosial yang membutuhkan peranan mahasiswa maka pada saat itulah mahasiswa tampil dan mencatatkan sejarahnya. Sebut saja peristiwa Rengasdengklok, Ampera, Reformasi dan peristiwa-peristiwa lain yang terjadi dalam kilasan sejarah Indonesia kita.
Fenomena gerakan mahasiswa yang telah bergulir secara histories adalah gerakan yang wajar adalah refleksi dari  progresivitas batinnya. Gerakan yang mendemontrasikan kepedulian dan tanggung jawabnya terhadap masyarakat. Gerakan mahasiswa adalah gerakan untuk mengeliminir berbagai problem sosial yang telah berimplikasi terhadap kebodohan, keterbelakangan (backwardness), dan keterpurukan generasi.
Gerakan-gerakan mahasiswa yang berdiri dalam popularitasnya ternyata tidak bisa seluruhnya membebaskan diri virus statisme dan afatisme intelektual yang berdampak pada stagnasi. Virus ini menyerang, membabibuta, dan mewabah pada jiwa mahasiswa di pusat maupun di daerah negeri maupun swasta.

Menggagas Perubahan Paradigma Berfikir
            Manusia termasuk di dalamnya mahasiswa akan bertindak sejalan dengan apa yang terfikirkan. Logikanya jika system berfikirnya benar maka tindakannya juga benar, jika berfikirnya beres maka tindakanya juga akan beres pendek kata tindakan adalah buah dari apa yang terfikirkan atau difikirkan.[2] Tindakan berupa gerakan-gerakan sosial yang dilakukan mahasiswa dengan demikian merupakan manifestasi dari apa yang ada difikirannya. Jika yang ada di fikiran mahasiswa adalah nilai IPK yang tinggi maka tindakannya adalah belajar terus di kamar kost, perpustakaan, kampus, dan tempat lain yang mendukung. Jika yang terfikir adalah kerja maka tindakannya adalah mencari informasi lowongan kerja, membuat surat lamaran kerja, magang, dan training di Balai Latihan Kerja (BLK). Mahasiswa yang berfikir fun/hiburan maka tindakannya adalah refreshing, climbing, dan clubing. Demikian juga mahasiswa yang dalam fikirannya kritis terhadap kondisi sosial sekitarnya maka tindakannya adalah advokasi/pendampingan, audensi, demonstrasi, dan presentasi konsep kepada para pengambil kebijakan. Dengan demikian maka mahasiswa yang berfikir kompleks ( menggabungkan apa yang  ada) maka tindakannya akan kompleks pula.
            Secara proporsional yang harus diakui adalah perlunya perubahan paradigma berfikir yang nantinya dengan perubahan paradigma berfikir itu mahasiswa dapat memiliki spirit untuk eksis kapan dan di manapun ia berada sekaligus mempersiapkan atau membekalinya untuk hidup bersama masyarakat. Kerja-kerja untuk menggulirkan perubahan paradigma berfikir mahasiswa dapat dilakukan oleh organisasi mahasiswa.      ( tidak ada segregasi antara organisasi internal dan eksternal)
            Merujuk pada paradigma profetiknya Kuntowijoyo[3] ada tiga pijakan agar kita bisa melakukan perubahan paradigma berfikir. Pertama, pijakan berupa dimensi transendensi. Pada dimensi ini aspek theologia menjadi penting untuk diformulasikan kembali mengingat daya dorong transendensi menjadi pendobrak dan pemicu yang sangat dahsyat. Secara Historis sebagaimana di kemukakan Max Weber kita bisa melihat bahwa semangat kapitalisme kaum protetstan terutama aliran calvinisme beberapa level lebih tinggi ketimbang kaum katolik. Dalam penilaian weber ini disebabkan oleh system kepercayaan yang dianut oleh kaum protestan lebih dapat menimbulkan daya gerak daripada system kepercayaan kaum katolik. Senada dengan Weber, Robert N. Bellah mengatakan bahwa keberhasilan Bangsa Jepang  sampai sekarang karena dipengaruhi oleh agama Tokugawa yang dianutnya. Semangat bangsa Indonesia yang kurang juga dipengaruhi oleh teologinya yang secara mayoritas berteologi Asy’ari.[4]
            Mahasiswa juga perlu memformulasikan atau menyusun kembali system teologi yang di anutnya. Kesempurnaan intelektualitas mahasiswa adalah dia memiliki system teologi yang mampu menghasilkan daya dobrak yang tinggi terhadap berbagai ketimpangan sosial. Mahasiswa harus mendasarkan setiap aktivitas berfikir dan bertindaknya pada dimensi transendensinya. Karl Marx yang tidak mendasarkan gagasannya pada dimensi ini saja bisa melahirkan sebuah gerakan sosial politik yang sampai hari ini tetap popular kenapa kita yang memiliki kekayaan transendensi masih tertinggal.
            Kedua, humanisasi. Memanusiakan manusia. Realitas ini harus dipahami bahwa perlunya kesadaran yang optimal di kalangan mahasiswa untuk melawan segala bentuk dehumanisasi (tindakan yang tidak menempatkan manusia sebagai manusia). Bentuk-bentuk tindakan dehumanisasi termasuk di antaranya mengekang kebebasan berfikir mahasiswa, membelenggu kreativitas mahasiswa, menjegal partisipasi mahasiswa dan sebagainya.
            Ketiga, liberasi. Implikasi dari humanisasi adalah munculnya daya dorong untuk membebaskan diri dan masyarakat dari situasi dan kondisi yang tidak kondusif.  Membebaskannya dari belenggu kebodohan, keterpurukan, dan keterbelakangan.
            Integrasi dari ketiga dimensi tersebut dapat mengubah paradigma berfikir mahasiswa dan mengejawantahkannya dalam praksis atau tindakan. Sistematika paradigma prifetik tersebut mewakili alur sistematis dari teologi yang berderivasi pada ideology dan sosiologi praksis.

Peranan Organisasi Mahasiswa
            Ide perubahan hanya muncul dari mereka yang peduli perubahan. Perubahan secara sistematis tidak akan terjadi kecuali jika ada pemicu (trigger) dan desainer perubahan. Mahasiswalah di antaranya yang memiliki kemampuan untuk merekayasa dan mendesain perubahan agar sejalan sesuai dengan yang direncanakan (planned social change). Secara personal hanya sedikit saja yang bisa dilakukan mahasiswa karena itu agar banyak hal yang bias dilakukan termasuk di dalamnya melakukan perubahan sosial dari aspek paradigma berfikir mahasiswa, diperlukan adanya organisasi mahasiswa.
            Setidaknya ada beberapa peran yang bisa dioptimalkan oleh organisasi mahasiswa untuk mengubah paradigma berfikir mahasiswa di antaranya : Pertama,  penguatan intelektual, di antara syarat orang bisa eksis adalah karena informasi berupa ilmu pengetahuan yang diperolehnya. Kemudahan dan kecepatan mengakses informasi adalah modal untuk merespon setiap perkembangan yang terjadi meliputi sosial, budaya, politik, hukum dan HAM dan sebagainya. Organisasi mahasiswa yang menyediakan kemudahan mengakses informasi biasanya akan terus eksis dan tidak ketinggalan moment dan pasti dibutuhkan oleh kader dan masyarakat. Lebih lanjut materi informasi akan membuat anggota organisasi mahasiswa memiliki khazanah intelektual yang secara bertahap akan berkembang dan maju. Khazanah intelektual yang berbasis transendensi, humanisasi, dan liberasi. Kedua, melatih responsifitas terhadap kondisi sosial. Informasi yang masuk atau diterima akan disikapi sesuai dengan kapasitas masing-masing mahasiwa yang implikasinya akan melahirkan tindakan yang variatif. Untuk itu organisasi mahasiswa dapat melihat fenomena ini dan menyatukan atau menyamakan persepsi dalam merespon atau menindaklanjutu informasi. Sehingga gerakan yang dilakukan merupakan buah komunikasi efektif  yang konseptual dan sistematis. Ketiga, mampu mengakomodir kepentingan-kepentingan mahasiswa yang sedang mempersiapkan hidup di masyarakat.

Endnote
            Mahasiswa sebagai kaum yang tercerahkan selalu dinanti kontribusi dan karyanya yang bermanfaat bagi masyarakat. Karyanya bisa berupa karya fisik maupun karya jasa bagi kemaslahatan baik dengan partisipasi dalam formulasi dan implementasi kebijakan maupun dalam pengawasannya. Di manapun harus kita buktikan bahwa pantang daerah yang ada komunitas mahasiswanya menjadi daerah yang terbelakang dan termarginalkan.
Yakin usaha sampai.





[2] Untuk memperkaya khazanah intelektual dalam bidang filsafat manusia bisa dibaca pada buku-buku Filsafat seperti Falsafatuna karya  Muh. Baqir Ash-Shadr, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 1991 atau Mengapa Kita diciptakan karya Murtadha Muthari, Lentera, Jakarta. 2001
[3] Kilasannya dapat pula dibaca pada buku Pendidikan Berparadigma Profetik karya Moh. Shofan, UMG Press, Gresik, 2004 hlm 71-98.
[4] Lihat Karya Herman Soewardi, Kognisi-Karsa-Nalar yang mengelaborasi kelemahan-kelemahan umat Islam Indonesia.
[5] Makalah disampaikan pada acara Tamada IAID 17 September 2005 di Aula Jend. Soedirman Darussalam Ciamis
[6] Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ciamis 2005-2006
[7] Lihat dalam buku Jangan Mati Reformasi, HMI dan Ikhiar sejarah Menuju Indonesia Baru yang ditulis oleh Anas urbaningrum, Yayasan Cita mandiri Indonesia, Jakarta, th. 1999 hlm. 35-36
[8] Untuk memperkaya khazanah intelektual dalam bidang filsafat manusia bisa dibaca pada buku-buku Filsafat seperti Falsafatuna karya  Muh. Baqir Ash-Shadr, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 1991 atau Mengapa Kita diciptakan karya Murtadha Muthari, Lentera, Jakarta. 2001
[9] Kilasannya dapat pula dibaca pada buku Pendidikan Berparadigma Profetik karya Moh. Shofan, UMG Press, Gresik, 2004 hlm 71-98.
[10] Lihat Karya Herman Soewardi, Kognisi-Karsa-Nalar yang mengelaborasi kelemahan-kelemahan umat Islam Indonesia.

Kamis, 17 November 2011

Guru Sebagai Pemicu Perubahan Sosial



Guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam dunia pendidikan, tanpa peranannya dapat dipastikan tak akan ada dunia pendidikan. Guru hadir untuk membantu peserta didik dalam meningkatkan kemampuan diri dari berbagai aspeknya, baik itu aspek fisik, mental, intellektual, kepribadian, akhlak atau budi pekerti dan aspek-aspek lainnya. Guru sejatinya adalah sosok makhluk yang  memiliki kredibilitas dan kapabilitas baik dihadapan peserta didik, rekan seprofesi, maupun di lingkungan keluarga dan masyarakatnya. Maka pantas jika ada yang mengatakan guru adalah seseorang yang digugu dan ditiru. Hal ini disebabkan karena guru dengan segala kekurangan dan kelebihannya biasanya dijadikan referensi baik oleh siswa, orang tua maupun masyarakat di sekitarnya.
Fenomena seperti ini saya kira biasa terjadi di belahan dunia manapun, sehingga respon terhadap fenomena itu adalah bagaimana agar seorang guru dapat dijadikan referensi fositif (positive referer) bagi komunitas disekitarnya. Bukan sebaliknya guru menjadi referensi negatif bagi masyarakat di sekitarnya. Guru yang biasanya dijadikan referensi positif (positive referer) bagi komunitas disekitarnya ( siswa, rekan seprofesi, keluarga, dan masyarakat) adalah guru yang memiliki etos kerja yang tinggi, sadar akan profesi keguruan yang disandangnya, memiliki kualifikasi keilmuan yang memadai, memiliki akhlak yang terpuji, dan komunikatif.
            Sosok guru yang komunikatif adalah seorang guru yang memiliki kemampuan mengkomunikasikan  ide/gagasan  baik di hadapan siswa, masyarakat sekolah, keluarga, dan  masayarakat sehingga dengan ide/gagasan yang dikemukakan guru tersebut secara bertahap terjadi perubahan ke arah yang lebih baik.
            Sebetulnya perubahan akan tetap terjadi karena apapun dan siapapun kecuali Allah SWT akan mengalami perubahan. Perubahan tidak bisa dicegah, seiring dengan perkembangan masyarakat maka perubahan akan terus terjadi, baik itu perubahan yang direncanakan (planned social change) maupun perubahan yang tidak direncanakan (unplanned social change). Perubahan sosial yang direncanakan adalah perubahan yang didesain atau dirancang sesuai keinginan manusia sebagai perancang perubahan, dan itu dapat dilakukan melalui sosialisasi ide atau salah satunya melalui pandidikan. Sedangkan perubahan sosial yang tidak direncanakan adalah perubahan yang tidak didirancang atau didesain oleh manusia, perubahan itu timbul sebagai akibat dari bencana alam yang terjadi di luar kemampuan manusia.
            Pendidikan sebagai modal perubahan harus dimaknai sebagai upaya untuk membantu manusia mencapai realitas diri dengan mengoptimalkan semua potensi kemanusiaan  yang dimilikinya. Dengan demikian semua proses yang menuju pada terwujudnya optimalisasi potensi manusia, tanpa mengenal ruang dan waktu dikategorikan sebagai kegiatan pendidikan. Itu artinya bahwa pendidikan tidak hanya terjadi di sekolah tetapi juga di luar sekolah. Dan memang seyogyanya tidak ada pemisahan (segregasi) antara institusi sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam mengoptimalkan proses pendidikan.
Karena pendidikan merupakan upaya untuk menciptakan perubahan ke arah yang lebih baik maka tentu saja guru dapat dikatakan sebagai manusia  yang cukup mempengaruhi terhadap perubahan sosial. Namun hal  paling penting yang harus diperhatikan adalah guru   sebagai faktor fundamental dalam dunia pendidikan adalah sejauh mana guru  memiliki kemampuan menciptakan perubahan sosial yang lebih baik (pembaharuan). 
            Perubahan yang terjadi bisa dikatakan perubahan sosial jika perubahan itu cukup mempengaruhi  struktur sosial, sikap, dan nilai suatu tatanan masyarakat. Perubahan sosial yang lebih baik berarti terwujudnya atau munculnya bangunan atau struktur sosial, sikap, dan nilai yang  mencoba memperbaiki atau menyempurnakan dari  keadaan atau tatanan sebelumnya.
            Guru sebagai insan pendidik yang memiliki jangkauan kerja tidak hanya di sekolah tetapi juga di keluarga dan masyarakat saya kira memiliki potensi yang cukup bagus dalam memicu perubahan yang lebih baik. Ia bisa menggagas adanya bangunan sosial yang lebih menghargai nilai-nilai kemanusiaan (humanis), ia juga bisa mengembangkan nilai baru yang positif yang dapat mengubah sikap masyarakat dari statis ke progresif, dari eksklusif menjadi inklusif terhadap paham baru yang  bisa membebaskan manusia dari pengekangan ekonomi, politik, dan sosial budaya. Ia bisa menumbuhkan semangat untuk maju pada masyarakat yang kehilangan semangat atau keinginannya untuk maju.
            Dengan keberadaan ketiga institusi pendidikan yang ada yaitu : keluarga, sekolah, dan masyrakat, guru dapat  menyalurkan ide/gagasan pembaharuan  melalui ketiga intitusi tersebut. Dalam  keluarga ia bisa menyalurkan ide/gagasan pembaharuan itu kepada anggota keluarga. Ia salurkan ide/gagasan itu melalui komunikasi dengan anak dan istri/suami. Penyaluran ide ini saya kira akan lebih cepat diterima karena frekuensi kontak atau interaksi yang lebih banyak dan relatif bermuatan emosional yang lebih besar.
            Dalam masyarakat guru dapat memanfatkan pranata sosial yang ada untuk menyalurkan ide/gagasan pembaharuannya. Memang harus diakui bukan hal yang mudah untuk mentransformasikan nilai baru apalagi pada masyarakat yang mamang cukup kuat atau fanatik memegang nilai-nilai lama yang diwarisi dari para pendahulunya. Namun harus juga diingat bahwa tidak mustahil nilai itu akan disusupi nilai baru seiring perkembangan masyarakat dengan sederetan perkembangan pola fikirnya. Yang penting ada pemicu (triger) perubahan. Dan guru bisa melakukan fungsi-fungsi itu yaitu sebagai pemicu perubahan. Bukankah Allah telah berfirman bahwa tatanan eksistensi sebuah komunitas manusia tidak akan dapat diubah ke arah yang lebih baik jika tidak ada yang mencoba mengubahnya. Guru di masyarakat berbeda dengan guru di sekolah ia lebih dituntut mempraktekan apa yang disampaikannya kepada murid-muridnya sekaligus ia harus bersikap dan berperilaku yang sesuai dengan apa yang dikatakannya. Kalau di sekolah ia dihadapkan pada sekumpulan siswa, guru, dan warga sekolah lain, tetapi di dalam masyarakat ia dihadapkan pada berbagai golongan usia, taraf ekonomi, taraf pendidikan, dan berbagai status sosial.
            Di sekolah guru dapat menyalurkan ide/gagasannya kepada siswa, guru atau warga sekolah lain. Ia bisa secara bertahap mengubah paradigma berfikir siswa, guru dan warga sekolah lain, paradigma baru yang menempatkan manusia sebagai subjek pendidikan yang harus terus berupaya membebaskan manusia dari kekangan keterbelakangan dan kebodohan. Ia berjuang keras agar murid-muridnya memiliki kualitas keilmuan dan keperibadian yang lebih baik dari dirinya, bukan malah mengekangnya dan menghambat kemerdekaan berfikirnya.
Akhirnya ingin saya katakan bahwa guru yang menjadi pemicu perubahan sosial adalah guru yang eksis mengupayakan perubahan yang lebih baik di sekolah, di keluarga, dan di masyarakatnya. Guru sepeti inilah yang pantas digugu dan ditiru. Wallahu a'lam
           

Minggu, 13 November 2011

GLOBALISASI SEBAGAI TANTANGAN TERHADAP MASYARAKAT INDONESIA YANG DICITA-CITAKAN


PENGANTAR DISKUSI
UNTUK CURAH SUM BANGAN PEMIKIRAN
MENGENAI “GLOBALISASI SEBAGAI TANTANGAN TERHADAP
MASYARAKAT INDONESIA YANG DICITA-CITAKAN”

PENDAHULUAN

Ada beberapa pertimbangan mengapa kita perlu memberikan perhatian kita kepada masalah globalisasi. Pertama, kita telah memasuki ambang awal milenium III sebagai era globalisasi walaupun gejalanya sudah terasa sejak bagian akhir dan abad 20. Kedua, kita menyadari bahwa globalisasi merupakan faktor utama yang telah mengguncang hampir segala sendi kehidupan bangsa, negara dan masyarakat Indonesia. Globalisasi masuk ke Indonesia lebih cepat dan kemampuan kita untuk dapat menerima dan mengolahnya bagi kemajuan kita, satu dan lain hal karena selama mi ketahanan nasional kita diletakkan kepada kekuatan-kekuatan yang sifatnya semu.
Apabila tujuan reformasi adalah mengatasi krisis, memulihkan kekuatan nasional untuk kemudian mampu bangkit kembali sebagai bangsa terhormat di dalam milenium ketiga, maka salah satu tolok ukur keberhasilan kita adalah apakah kita akan mampu dan berhasil menghadapi dan mengarungi era globalisasi tersebut. Ajakan Presiden untuk membuat bangsa dan negara kita menjadi bangsa dan negara yang terhormat dan bermartabat, perlu kita tempatkan di dalam konteks globalisasi sebagai peluang maupun tantangan.

HAKEKAT GLOBALISASI

Langkah pertama yang amat penting adalah membangun persepsi bersama mengenai globalisasm itu. Dewasa mi sudah terdapat berbagai definisi mengenai globalisasm. Ada yang memandang globalisasi sebagai gejala yang jelas, ada yang merasa globalisasi merupakan gejolak sejarah yang tidak mudah untuk dikenali saat mi.
Globalization is a complex phenomenon, fraught with contrasts. It promises to bringful/y into active pattic,Pation in the world economy two bilion women and men in the fast growing countries. But hundreds of millions of other individuals fear that the same forces threaten to shut them out from the promise of prosperity They are unemployed or low wage earners in sectors of industr,~l economies that had been lagging behind in the process of change. They are too the poor and jobless of many developing countries that depend on few commodities barely touched by globalization. (John H. Dunning and K/ia/il A. Hamdani).
Bagi sementara orang globalisasi dipandang sebagai bagian dan proses integrasi umat manusia, namun bagi yang Iainnya globalisasi justru dirasakan sebagai ancaman disintegrasi dan marginalisasi kemanusiaan secara total dan semesta. Ada yang mendefinisikan globalisasi sebagai “the compression of the world into a single space and the intensification of the world consciousnes of the world as a whole” (Robertson). Ada yang memandang globalisasi sebagai proses perubahan yang bergerak cepat, saling kait mengkait, dan bercakupan semesta. Ada yang melihat faktor ekonomm, teknologm dan pengetahuan sebagai faktor utamanya. Ada yang memandang globalisasi sebagam kebangkitan baru kesadaran kemanusiaan semesta.

CIRI- CIRI GLOBALISASI
Tidak mudah untuk membuat definisi mengenai globalisasi secara Iengkap dan komprehensif. Mungkmn lebih baik kita berusaha mengenali ciri-cirinya dan kemudian mencoba membuat gambaran yang agak utuh.

1.    Globalisasi sebagai kelanjutan dan modernisasi.

Globalisasi sesungguhnya tidaklah datang secara mendadak. Ada masukan­masukan dan masa Iampau yang kemudian berakumulasi dan bermuara kepada apa yang terjadi dewasa ml. Dalam hal mi globalisasi perlu diselami sebagai kejadian yang mempunyai Iatar belakang sejarah Barat dan Eropa. Globalisasi merupakan gelombang lanjutan dan runtuhnya abad pertengahan Eropa yang serba keagamaan melahirkan jaman modern, di mana manusia berusaha mewujudkan sistem alternatif non-keagamaan yang sifatnya kokoh dan semesta. Humanisme dan renaisance dan kemudian gelombang Enl,~ihtenment atau Aufklarung merupakan awal dan kebangkitan modern tersebut. Faktor-faktor dominan yang menggerakkan adalah ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, hasrat akan kemerdekaan dan kehausan akan kekuasaan. Perubahan tersebut menjadi awal dan gerak evolusi dan bahkan koevolusi yang bergerak terus yang sifatnya menjadi ekspansif dan akumulatif diberbagai bidang kehidupan manusia, yang kemudian pada saat mi bermuara menjadi perubahan besar yang dinamakan globalisasi tersebut.


2.    Cinl-dri Bidang Ekonomi.

Sebetulnya faktor terpeniting di dalam terjadmnya modernisasi itu adalah faktor ekonomi. Lahirnya jaman modern meruntuhkan tata ekonomi feodal
digantikan dengan tata ekonomi kota. Tata ekonomi kota lebih lanjut tumbuh dan melahirkan tata ekonomi nasional dalam anti ekonomi negara (nation states~. Interaksi balk yang bersifat konfliktif maupun asosiatif dan ekonomi nasional (ekonomi negana) mi tebih lanjut melahirkan sistem ekonomi intennasional. Pnoses evolusi dan koevolusi dan suasana ekonomi internasional mi berakumulasi dan melahirkan tahap ekonomi trans nasional yang merupakan salah satu cmi utama dan apa yang dinamakan globalisasi tersebut. Di dalam fase mi maka ekonomi telah bergerak melintasi batas­batas nasional sementara negara bangsa tidak Iagi menjadi faktor utama yang menentukan.

3.    Ciri-cini Bidang Kemasyarakatan

Sebagai reaksi terhadap golongan bangsawan yang disebut sebagai “eerste stand’ dan golongan agama sebagai “tweede stand’ maka jaman modern melahirkan apa yang disebut sebagai “derde stand” yang juga disebut sebagai “burgerl(/k” (civil). Fakton ekonomi memang telah menjadi pemicu Iahirnya golongan ketiga in Munculnya golongan ketiga mi mungkin dapat dipandang sebagai konsep civil socieity generasi pertama. Sifatnya masih reaktioner opositif terhadap golongan Iawannya. Di dalam perkembangannya maka lahinlah konsepsi-konsepsi sistem kemasyarakat-an non keagamaan, antara lain di dalam konsep hak-hak asasi, kemerdekaan, netaionalisme, demokrasi, republik, hukum, namun juga berbagai sistem kekuasaan balk ideologi, politik maupun ekonomi. Inilah konsep civil society generasi kedua yang intinya adalah upaya membangun sistem alternatif non keagamaan yang sifatnya semesta, balk idiil maupun operasionalnya. Lahinlah misalnya konsep sistem liberal, sistem kapitalis, sistem sosialis, komunis dan lain sebagamnya. Pada fase mi kekuasaan merupakan titik berat penhatian, di mana negara bangsa dipandang sebagai institusi alternatif non keagamaan yang sifatnya ideal. Sejalan dengan perkembangan ekonomi yang bengerak dan fase internasional kepada fase tnansnasional, maka tenjadi pula pergeseran dan fase civil society generasi kedua kepada fase society generasi ketiga. Dalam fase mi manusia melihat bahwa essensi dan pemberontakan modern adalah melawan kekuasaan yang ada pada abad pentengahan tersebut. Maka itu essensi dan alternatif yang dicita-citakan adalah membebaskan manusia dan segala apa yang dinamakan kekuasaan. Negana, institusi, stnuktur, balk politik, ekonomi, hukum maupun militer, dipandang sebagai wujud dan apa yang dinamakan kekuasaan yang bagaimanapun akan selalu membawa manusia kedalam jurang dehumanisasi. Itulah sebabnya maka konsep civil sosiety generasi ketiga cenderung melepaskan manusia dan masyarakat dan segata bentuk institusi kekuasaan maupun stnuktur itu. Sepenti halnya di dalam konsep generasi kedua tenjadi sikap memisahkan agama dan dunia dan manusia sampai kepada memusuhi agama dan bahkan memusuhi dan rnembuangkan Tuhan (seku/arisasi sekular,sme dan atheisme), maka pada generasi ketiga mi ada berbagai vaniasi sikap dan yang memisahkan negara dan masyanakat sampai kepada sikap yang memandang penlunya negara dan segala institusi kekuasaan dan stnuktun itu dihancunkan dan dibinasakan (Eksistensiallsme, strukturalisme, neomarxisme, post modernicme). Dalam fase akhin mi kelanjutan dan evolusi modernisasi nampak menggejala di dalam genak anti modennisasi itu sendini, apabila hakikat modernisasi adalah kekuatan dan kekuasaan.

4.    Cini-cini Bidang Ilmu dan Teknologi

Humanisme dan nenaisance memacu terjadinya kemajuan ilmu pengetahuan khususnya yang empinis dan mengenam alam kosmika/. Di dalam perkembangannya pada jaman Aufk/arung maka tumbuh perkembangan ilmu menjadi makmn kuat. Evolusi ilmu dan teknologi menunjukkan betapa pada awalnya kedua hal mi tidak langsung benkaitan dengan perkembangan ekonomi akan tetapm kemudian ilmu, teknologi dan ekonomi menjadi suatu koevolusi yang makin manunggal. Revolusi industni I melahinkan masyarakat industni modern awal, didukung oleh peradaban industni yang tendini dan ilmu pengetahuan positif modern dan teknologi.

Revolusi industni kedua melahirkan apa yang disebut sebagai rnechanisation society (mass production) didukung oleh lahinnya science controlled technology Dan fase controlled technology mi manusia mengembangkan lebih lanjut automatisasi (automatic controlled technology~ yang benmuara kepada sibernetika. Sibernetika inilah mendonong tenjadmnya automation society Sibemetika dan fase automation society inilah yang kemudian melahirkan nevolusi industni III yang amat besan pengaruhnya tenhadap informasi, komunikasi, tnansportasi, dan penguasaan sumben-sumben energi. Terjadinya nevolusi industri III di dalam suasana automation society yang didukung oleh kekuatan sibernetika dan penguasaan sumber-sumber enengi itulah yang menyebabkan (dan mungkin menjadi salah satu fakton) tenjadinya perubahan dan fase intennasional kepada fase transnasional serta lahinnya konsep civil society generasi ketiga. Ekonomi menjadi bersifat tnansnasional ketika sibernetikanya enengi ekonomi yaitu sistem moneten juga masuk ke dalam roda automation society mi. Kita memang belum benhenti. Ilmu dan tehnologi yang pada awalnya hanya menjamah alam di luan manusia telah pula menembus alam di dalam din manusia sendini. IImu biologi telah membawa manusia memasuki bio -technology, dan bahkan bengabung dengan psikologi telah mulai memasuki medan psycho bio technology, yang mungkin akan menjadi medan utama untuk penkembangan umat manusia di masa yang akan datang.

5.    Dimensi Kekuatan dan Kekuasaan

Zaman modern merupakan zaman yang menyadarkan bahwa manusia memiliki kekuatan dan kekuasaan yang ada di dalam dininya sendini (tidak di dalam kebangsawanan ataupun di dalam keagamaan). Kanena itulah manusia ingin membangun sistem altennatif kekuasaan yang basisnya bukan kebangsawanan bukan pula keagamaan. Zaman modern menyadankan manusia betapa ekonomi merupakan faktor basis bagi kekuasaan dan kekuatan, terutama ketika ekonomi kota tumbuh menjadi ekonomi nasionat dengan negara bangsa sebagai institusi kekuasaan atau pelaku utamanya. Kekuasaan negana ditentukan oleh kekuatan ekonominya, balk kekuatan itu berupa massa manusia ataupun kekuatan itu menjadi sistem kekuatan yang tenonganisasi. Pada awalnya orang menyadani betapa kekuatan kekuasaan hanuslah didukung oleh massa dan kemampuan kekerasan phisiknya (violence). Namun untuk inipun ekonomilah yang harus mendukungnya, tenutama uang. Maka penhatian kekuasaan tentujulah kepada membangun basis ekonomi negara. Dalam kaitan inilah maka dapat difahami teriadinya gerakan kolonialisme balk yang kuno maupun sampai kepada impenialisme modern dan neoimpenialisme dewasa mi. Intl kekuasaan tidak tenletak di dalam “violence” akan tetapi pada fakton “wealth’ apalagi ketika ekonomm makin manunggal dengan ilmu dan tehnologi. Kekuasaan menjadi didukung oleh ekonomi yang dapat menyediakan mesin-mesin pemaksa dan mesin­mesin penakluk (penang) yang tenjadi sampai sekanang ml. Ekonomi menjadi makin menyatu dengan politik dan militen. Semua mi menupakan bagman nyata dan revolusi industni II. Telah terjadi perang dunia I, penang dunia II, dan kemudian dunia yang berada di dalam suasana konflik bipolar. Penkembangan internasional kedalam fase transnasional nampaknya telah pula mengubah situasi: Suasana bipolar menjadi suasana mu/tip a/ar, namun yang lebih penting dan itu maka kekuatan kekuasaan akan amat ditentukan oleh yang memilki basis nevolusi industni II yang dipenkuat dengan basis revolusi industni III serta penguasaan ekonomi transnasional dalam ilmu dan tehnologi yang serba sibernetika. Semua mi akan mengubah gaya maupun metoda penebutan kekuasaan dan adu kekuatan dan suasana lama kepada suasana banu. Konsep pentahanan, konsep keamanan, konsep penang, konsep militer mungkin akan mengalami penubahan mendasan. Konsep kompetisi yang banyak dibicanakan sebagai cmi globalisasi tidak tenlepas dan dimensi kekuatan dan kekuasaan mi.

6.    Globalisasi sebaciai konflik antara kekuatan kekuasaan dan nilai

Mengamati cini-cini globalisasi sebagaimana tersebut di atas maka di dalam penkembangannya globalisasi tidak hanya akan membawa masalah dilema antara yang maju dan yang tentinggal, yang kaya dan yang miskin, namun secara fundamental globalisasi akan membawa dilema antana mereka yang
u~Iyt~ai~ paua jcIIuI r~I’~Ucz~ddII ucIII tc~eI~UdLdII ~e[t1dLd-mdEd aengan mereKa yang bergerak pada jalur cita-cita dan nilai, tenutama cita-cita kemanusiaan (humanisasi). Ekonomi, ilmu dan tehnologi sebagai basis kekuatan dan kekuasaan akan selalu memberikan kemungkinan kepada kekuatan-kekuatan dunia untuk bengerak atas dasar kemauan dan kekuatan kekuasaannya semata-mata, apakah itu kekuatan politik, ekonomi, militer, bahkan tenorisme yang benskala internasional dapat menjadi tnansnasional pula. Di dalam konteks inilah maka globalisasi masih menghadapkan umat manusia kepada masalah dapatkah umat manusia mewujudkan tata dunia banu, tata ekonomi baru, tata politik dunia baru di mana kekuatan dan kekuasaan yang didukung oleh ekonomi, ilmu dan tehnologi akan dapat menjadi kekuatan dan kekuasaan yang berwatak kemanusiaan yang luhur secana semesta, berbasis monalitas senta tenbuka kepada dimensi vertikal eksistensi manusia (religios).

7.    Globalisasi sebagai kebangkitan kemanusiaan semesta

Globaliasi sebagai muara gelombang modernisasi membawa gelagat kepada tenjadinya kebangkitan kemanusiaan semesta. Hal mi satu dan lain hal disebabkan kanena pembenontakan modern melawan abad pertengahan maupun pembenontakan psomodernisme tenhadap modernisasi itu sendini pada hakekatnya adalah pembenontakan pembebasan manusia dan kemanusiaan terhadap segala bentuk represi dan eksploitasi. Oleh kanena itu manusia dan kemanusiaan semakin tampil sebagai titik konvergensi dan akumulasinya koevolusi budaya dan peradaban modern dewasa mi. Hal ml semakin diperkuat dengan terjadinya transpontasi dan komunikasi seita kecenderungan yang sifatnya tnansnasional. Dibalik nasionalisme modern yang kemudian melahinkan internasionalisme, dibalik tumbuhnya negionalisme dan tenjadmnya fase tnansnasional di dalam perkembangan sejanah, yang sesungguhnya teriadi tidak lain adalah evolusi dan koevolusi manusia dan kemanusiaan yang makin menjadi semesta pula, balk yang bersmfat Iahir maupun yang bersifat batin.

8.    Globalisasi sebagai kebangkmtan kesadaran religius

Modernisme, internasiona lisme, tnansnasionalisme serta globalisme pada hakekatnya berawal dan keinginan manusia membangun sistem semesta non keagamaan. Oleh kanena itu di dalam perkembangannya apa yang dihasilkan oleh modernisme mempunyai sifat non keagamaan, bahkan sementara ada yang menjadi anti keagamaan, dan lebih jauh lagi Ialu bensifat non­Ketuhanan sampai kepada yang menolak kepencayaan kepada adanya Tuhan itu sendini. Sekulanisasi (yang sifatnya minimal non keagamaan atau indifienentisme keagamaan) berkembang menjadi sekulanisme yang smfatnya lebih doktriner melawan agama dan membuangkan Tuhan (Atheisme). Di dalam kondisi seperti ml maka makna, penan, dan posisi agama menjadm
L~1IIIdI~JIIIdII~GThII~dII. I9tIdpeLdKd ycuiy UIUdWd proses mi aaalari manusia mendewakan penangkat-perangkat kekuatan dan kekuasaan senta memutlakkan dininya. Di dalam situasi seperti itu tentulah ada upaya Iingkungan keagamaan untuk mempertahankan din. Ada tumbuh konsepsi mengenai agama sebagai organisasi kekuasaan yang hanus berebut kekuasaan dengan sistem non keagamaan. Ada yang melihat betapa agama­agama harus menenima dan mengikuti penkembangan sekulanisasi dan sekulanisme bahkan atheisme itu sendini. Ada pula yang berusaha untuk membangun titik temu yang antara dunia dan agama, sehmngga memandang agama tidak sebagai organisasi kekuasaan melainkan sebagai kekuatan iman, taqwa dan kekuatan moral senta spiritual dan sejarah sebagai koevolusi kebudayaan dan peradaban. Pengumulan antara agama dengan dunia, antara agama dengan kekuatan dan kekuasaan manusia, masih terus bentangsung sampai pada harm mi.

9.    Globalisasi dalam anti luas dan anti sem Dit

Sebagai tambahan terhadap upaya memahami globalisasi itu kinanya ada baiknya dibuat pembedaan antana globalisasi dalam anti luas dan globalisasi dalam anti sempit. Dalam anti sempit globalisasi khususnya berkaitan dengan perubahan-penubahan semesta yang sedang terjadi dewasa mi yang faktor dominannya adalah ekonomi (termasuk uang sebagai sibernetikanya), ilmu dan tehnologi, khususnya tehnologi mnfonmasi, dan tehnologi penguasaan energi. Dalam anti Iuas globalisasi berkaitan dengan segala apa yang mempunyai sifat transnasional, yang mungkin tidak hanya sekanang mi saja, bahkan mungkin sudah sejak zaman dahulu. Misalnya saja agama-agama yang kiranya sejak dahulu sudah memiliki lingkup dan cakupan tnansnasional (bahkan dahulu ada istilah supranasional) ilmu pengetahuan serta kesenian (musik misalnya).

POSISI KITA

Apabila globalisasi kita pandang sebagai faktor eksternal dan eksistensl nasional kmta sebagai bangsa, negara dan masyanakat, maka sejak zaman dahulu kala Indonesia yang bersifat nusantara mi perkembangan, pertumbuhan dan kemajuannya dibentuk oleh interaksmnya dengan faktor-faktor dan luar itu. Hal mi terjadi baik pada zaman masuknya pengaruh dan India, penganuh dan Cina, penganuh dan Timur Tengah dan agama Islam, penganuh dan Eropa, penganuh dan Jepang (sebelum kemerdekaan Republik Indonesia), dan kemudian penganuh mntennasional sampai kepada pengaruh tnansnasional dewasa mi dan di masa yang akan datang.

Menghadapi situasi perubahan peradaban transnasional yang genaknya
cepat dan cakupannya semesta mi, hanya ada 3 pilihan bagi kita                                              cj~
(1)   Menutup din, menjadi katak di dalam tempunung, namun akhirnya akan tengilas pula oleh kekuatan globalisasi.
(2)   Menjual din, dalam anti menyenahkan nasib maupun wujud eksistensm kita sepenuhnya kepada salah satu atau bebenapa kekuatan global, yang akan benarti hilangnya hak kemerdekaan dan derajat mantabat jati din eksistensm.
(3)   Membangun kemandirian, sehingga mampu mewujudkan keterbukaan disertai kemampuan mengolah secara knitis dan efektmf berbagai masukan dan globalisasi itu sehingga rnenjadi kekuatan banu yang memajukan pensatuan, peradaban senta mempentinggi denajat kemanusiaan bangsa kita dalam kerangka keluarga besar bangsa-bangsa umat manusia.

Kiranya pilihan terbaik adalah opsi ketiga. Dan hal mi kiranya juga yang tenjadi selama mi di dalam sepanjang sejarah kebudayaan dan peradaban Indonesia, yang oleh sementara disebut sebagam kemampuan benakulturasi. Maka masalah utama kita menghadapi globalisasi adalah bagaimana kita membangun kemampuan kita mengakultunasikan masukan-masukan yang dibawa oleh globalisasi mi.

Di dalam kondisi global tnansnasional dewasa mi maka akulturasm itu tidak sebagaimana terjadi dahulu dengan menunggu masuknya penganuh dan luar, akan tetapi juga harus mampu memasuki medan transnasional tensebut dalam rangka mendapatkan kekuatan untuk perkembangan Indonesia sendini pula. Ke dalam kita hanus mempensiapkan kemampuan kita mengolah dan mengakulturasikan segala apa yang masuk ke Indonesia secara knitis selektif. Ke luar kita hanus mengembangkan kemampuan kita memasuki medan transnasional (tanpa meninggalkan basis regional dan intennasional), hanus mampu memadukan nasionalisme regionalisme intennasionalisme, dan tnansnasionalisme.

Vlsi. KonseDsi. Sosialisasi

Dengan sikap dasar tensebut di atas maka kita penlu membangun visi kita mengenai globalisasi itu, untuk selanjutnya membangun konsepsm sebagai pegangan bersama, yang penlu dilaksanakan secara konsisten. Visi dan konsepsm mi penlu disosialisasikan, agar dengan demikian visi dan konsepsi itu memang menjadi visi dan konsepsi seluruh rakyat Indonesia. mi sesuai dengan tuntutan demokra si.

Visi dan konsepsi kita di dalam menghadapi globalisasi tensebut kmranya penlu mempertimbangkan hal-hal benikut mi:

1.    Walaupun globalisasi menupakan fase banu di dalam penubahan gerak
putaran alam dan zaman yang amat besar dan mendasan, namun penlu dilihat~
pula adanya kontinuitas antara modernisme sebagai reaksi terhadap zaman abad pertengahan Enopa dengan globalisme transnasional dewasa mi.

2.    Sebagai kelanjutan dan modernisme globalisasi merupakan muana akumulasinya kekuatan manusia di dalam mengembangkan sistem pengetahuan, sistem ekonomi, sistem teknologi yang makin Iama menjadi makin konvengen satu dengan yang lain dan cakupannya menjadi makin luas dan makin semesta sifatnya dan dampaknya Iuas serta mendasan terhadap sistem politik, negara, hukum, budaya dan pentahanan.

3.    Sebagai kelanjutan dan modennisme yang membenontak terhadap abad Pertengahan Eropa, globalisasi mempunyai sifat dan kecendenungan non keagamaan yang amat kuat (sekulanisasi, sekulanisme, athemsme, matenialisme).

4.    Sebagai medan koevolusi manusia di dalam sejarah maka balk modernisme maupun globalisasi, baik nasionalisme, intennasionalisme, regionalmsme maupun transnasionalisme, tetap menampilkan wajah manusia yang membawa di dalam dininya ambivalensi dan dilemma eksistensi yakni
kemungkinan menjadi kekuatan kemajuan umat manusia dan dunia di satu pihak dan kemungkinan menjadi kekuatan destnuksi umat manusia dan dunia di lain pihak. Dengan demikian maka globalisasi membawa masalah dilemma dan ambivalensi eksistensi manusia, yang hanya dapat diatasi melalum pembangunan nilai, moralitas, spmnitualitas sebagai bagman dan pilihan eksistensinya.

5.    Globalisasi sebagai kelanjutan dan modernisme sebagai pembenontakan manusia tenhadap kekuatan dan kekuasaan, bermuana kepada polanmsasm senta konflik majemuk antarkekuatan dan kekuasaan di satu pihak dan menguatnya kesadanan kemanusiaan semesta di lain pihak.

Atas pentimbangan mi maka di dalam menghadapi globalisasi kita penlu mempenjelas visi, konsepsi, dan sikap kita terhadap kekuatan dan kekuasaan apapun bentuknya dan apapun pula cakupannya (nasional, regional, internasional, transnasional); visi dan konsep kita tenhadap kekuatan dan kekuasaan ekonomi, ilmu dan teknologi; visi dan konsepsi kita di dalam pengumulan antara globalisasi sebagai pendewaan kekuatan dan kekuasaan semata-mata di satu pihak (dalam segala bidang), dengan kecenderungan semesta menghancunkan segala bentuk kekuatan dan kekuasaan; visi dan konsepsi kita tenhadap interaksi antara kekuatan dan kekuasaan dengan nilai­nhlai kemanusiaan, monalitas dan religiusitas.

Globalisasi sebagai penubahan besan penlu diolah oleh manusia agan menjadi globalisasi sebagai kemajuan kemanusiaan semesta, balk di bidang politik
~• mu, ~ J~.i~iyU, LI0I I I\~0I 11011011 II IOUI.JUI I Ut UdIdUI unyicup nasionai, regional, internasional, dan tnansnasional.

Pembukaan Undana-undanci Dasar 1945

Untuk menentukan sikap knitis dan selektif di dalam mengakulturasmkan globalisasi tensebut balk ke dalam maupun ke luan, jelas sekali kita memerlukan kaidah-kaidah bersama. Hal ml juga amat penting bagi penyusunan visi dan konsepsi. Kita perlu bersyukur bahwa di dalam semangat refonmasi kita masih menasa perlu mempertahankan Pembukaan UUD 1945. Ada berbagai alasan:

(1)       sekurang-kurangnya kita tidak penlu bersitegang mengenai formula masyarakat Indonesia yang kita cita-citakan.
(2)       Iebih dan itu secara substansial Pembukaan UUD 1945 memang memuat pandangan-pandangan dasar yang bagus dan masih nelevan bagi cita-cita fundamental rakyat, masyarakat, bangsa dan negana kita, tidak hanya ke dalam akan tetapi juga ke luar.

SARAN PERTIMBANGAN

1.    Globalisasi sebagai tantangan penlu kita hadapi dengan pendekatan kultural, antinya sebagai perjuangan aktualisasi eksistensi dan koeksistensi manusia di dalam meningkatkan derajat dan mantabat kemanusiaannya secana bersama, baik dalam skala nasional, skala regional, skala intennasional, dan skala transnasional.

2.    Gtobalisasi hanya dapat kita hadapi apabila kita mengadakan neformasi terhadap seluruh sendi-sendi kekuatan nasional agar tidak menjadi kekuatan yang sifatnya semu. Reformasi harus menjadi wahana bagi kita untuk membangun kekuatan nasional guna menghadapi globalisasi itu.

3.    Perlu memperdalam dan mempenluas pemahaman mengenai globalisasi, mengidentifikasi fakton-faktor yang negatif dan melunuskan yang positif dalam rangka mengolah dan memanfaatkannya.

4.   Menghadapi globalisasi sebagai dilema antana kekuatan dan kekuasaan semata-mata disatu fihak dengan nilai-nilai kemanusiaan monalitas dan neligius dilain flhak, kita berusaha memadukan keduanya, yaitu memiliki kekuatan dan kekuasaan politik, ekonomi, hukum maupun militen sebagam perangkat bagi diaktualisasikannya nilai-nilai kemanusiaan (humanisasi) dan bukan sebaliknya (dehumanisasi). Pembendayaan ekonomi, tehnologm, politik, penlu dilandasi oleh moralitas dan spinitualitas yang kuat.
~.                        i~e~ernasitan Kita ai aaiam mengnaaapi gtooaiisasi akan ditentukan oleh kesiapan dan kemampuan kmta sendiri sebagai jaminan keberhasilannya.

6.    Pendidikan nasional merupakan faktor yang amat penting untuk membangun kesiapan dan kemampuan bangsa kita sebagam jaminan keberhasilan kita mengarungi masa depan di dalam era-era perubahan besar saat mi dan di masa mendatang nantinya.

7.    Upaya membangun kekuatan nasional menghadapi tantangan globalisasi dengan pendekatan kultural perlu kita tuangkan ke dalam

a.   Visi dan konsepsi nasional;
b.   Vlsi dan konsepsi politik nasional;
c.    Visi dan konsepsi ekonomi nasional;
d.   Visi dan konsepsm kebudayaan dan agama;
e.    Visi dan konsepsi mengenai kekuatan informasi nasional;
f.    Vlsi dan konsepsi mengenai hukum nasional;
g.    Vlsi dan konsepsi mengenai keamanan dan pertahanan, termasuk peran militer.
h.   Vlsi dan konsepsi mengenai pendidikan;

8.    Dalam menghadapi globalisasi tersebut tetap perlu dipegang:
a.   Pembukaan UUD 1945
b.   Kedaulatan rakyat yang didasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusian Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawatan perwakilan, Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
c.    Sifat negara kesatuan dengan desentralisasm yang mendukungnya, yang berbentuk Republik.
d.  Wawasan nusantara
e.  Persatuan kesatuan bangsa.

PENUTUP

Masalahnya adalah apakah jalannya reformasi selama mi sudah membermkan jaminan keberhasilan dan menjauhkan resiko kegagalan terhadap tantangan globalisasi tersebut. Masyarakat Indonesia yang kita cita-citakan tidak lain adalah masyarakat Indonesia yang berhasil di dalam menghadapi tantangan globalisasi tersebut.


Jakarta, 24 Maret 2000