Tampilkan postingan dengan label ORGANISASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ORGANISASI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Desember 2011

Organisasi Mahasiswa Sebagai Salah Satu Alternatif Untuk Mengubah Paradigma Berfikir


Organisasi Mahasiswa Sebagai Salah Satu Alternatif
Untuk Mengubah Paradigma Berfikir


Abstract
Historically the University student never die to demonstrate their responsibility to the wherever and whenever community. Their Responsibility is progressive reflection to make a social change that give contribution for social  order. To realize it, they have been building the synergy in the university student organization. But the problem in the  university student activity is   paradigm of thinking  that  implicates to the stagnation. This paper deals with some aspects that give impact to it and how to gain it solution.

Keyword : university student--paradigm of thinking

Preface
Mahasiswa adalah sebutan bagi mereka yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi baik swasta maupun negeri. Karena telah lebih lama mendapatkan pendidikan sejak pendidikan dasar, menengah, dan  sampai perguruan tinggi maka banyak orang menilai mahasiswa sebagai kaum intelektual atau kaum akdemisi. Juga karena telah lebih dulu mengenyam pendidikan di perguruan tinggi atau universitas maka mahasiswa pasti diperlakukan berbeda dari pada siswa.
Karakter yang biasa diidentikan dengan mahasiswa setidak-tidaknya dibangun di atas tiga landasan. Pertama, psikologi orang muda yang senantisa progresif dalam mencari dan menemukan jatidiri. Kedua, Idealisme karena keyakinan terhadap nilai-nilai dasar dan komitmen untuk mewujudkannya. Ketiga, intelektualitas yang menjadi kontruksi atau kerangka dari sistem cita-cita sehingga segenap sikap maupun tindakannya tidak sekedar perilaku basa-basi atau aktivisme hampa.[1] Ketiga hal itulah yang menjadi support bagi sikap dan tindakan mahasiswa untuk peduli dan mempunyai responsibilitas yang tinggi    (high responsibility) terhadap masyarakatnya. Sejarah kemahasiswaan di Indonesia telah memberikan fakta yang otentik bahwa support itulah yang telah melahirkan daya dobrak atau daya dorong yang efektif bagi sikap-sikap kepeloporan yang diperankan mahasiswa dalam proses pembaruan. Pada saat terjadi kemandegan atau problem sosial yang membutuhkan peranan mahasiswa maka pada saat itulah mahasiswa tampil dan mencatatkan sejarahnya. Sebut saja peristiwa Rengasdengklok, Ampera, Reformasi dan peristiwa-peristiwa lain yang terjadi dalam kilasan sejarah Indonesia kita.
Fenomena gerakan mahasiswa yang telah bergulir secara histories adalah gerakan yang wajar adalah refleksi dari  progresivitas batinnya. Gerakan yang mendemontrasikan kepedulian dan tanggung jawabnya terhadap masyarakat. Gerakan mahasiswa adalah gerakan untuk mengeliminir berbagai problem sosial yang telah berimplikasi terhadap kebodohan, keterbelakangan (backwardness), dan keterpurukan generasi.
Gerakan-gerakan mahasiswa yang berdiri dalam popularitasnya ternyata tidak bisa seluruhnya membebaskan diri virus statisme dan afatisme intelektual yang berdampak pada stagnasi. Virus ini menyerang, membabibuta, dan mewabah pada jiwa mahasiswa di pusat maupun di daerah negeri maupun swasta.

Menggagas Perubahan Paradigma Berfikir
            Manusia termasuk di dalamnya mahasiswa akan bertindak sejalan dengan apa yang terfikirkan. Logikanya jika system berfikirnya benar maka tindakannya juga benar, jika berfikirnya beres maka tindakanya juga akan beres pendek kata tindakan adalah buah dari apa yang terfikirkan atau difikirkan.[2] Tindakan berupa gerakan-gerakan sosial yang dilakukan mahasiswa dengan demikian merupakan manifestasi dari apa yang ada difikirannya. Jika yang ada di fikiran mahasiswa adalah nilai IPK yang tinggi maka tindakannya adalah belajar terus di kamar kost, perpustakaan, kampus, dan tempat lain yang mendukung. Jika yang terfikir adalah kerja maka tindakannya adalah mencari informasi lowongan kerja, membuat surat lamaran kerja, magang, dan training di Balai Latihan Kerja (BLK). Mahasiswa yang berfikir fun/hiburan maka tindakannya adalah refreshing, climbing, dan clubing. Demikian juga mahasiswa yang dalam fikirannya kritis terhadap kondisi sosial sekitarnya maka tindakannya adalah advokasi/pendampingan, audensi, demonstrasi, dan presentasi konsep kepada para pengambil kebijakan. Dengan demikian maka mahasiswa yang berfikir kompleks ( menggabungkan apa yang  ada) maka tindakannya akan kompleks pula.
            Secara proporsional yang harus diakui adalah perlunya perubahan paradigma berfikir yang nantinya dengan perubahan paradigma berfikir itu mahasiswa dapat memiliki spirit untuk eksis kapan dan di manapun ia berada sekaligus mempersiapkan atau membekalinya untuk hidup bersama masyarakat. Kerja-kerja untuk menggulirkan perubahan paradigma berfikir mahasiswa dapat dilakukan oleh organisasi mahasiswa.      ( tidak ada segregasi antara organisasi internal dan eksternal)
            Merujuk pada paradigma profetiknya Kuntowijoyo[3] ada tiga pijakan agar kita bisa melakukan perubahan paradigma berfikir. Pertama, pijakan berupa dimensi transendensi. Pada dimensi ini aspek theologia menjadi penting untuk diformulasikan kembali mengingat daya dorong transendensi menjadi pendobrak dan pemicu yang sangat dahsyat. Secara Historis sebagaimana di kemukakan Max Weber kita bisa melihat bahwa semangat kapitalisme kaum protetstan terutama aliran calvinisme beberapa level lebih tinggi ketimbang kaum katolik. Dalam penilaian weber ini disebabkan oleh system kepercayaan yang dianut oleh kaum protestan lebih dapat menimbulkan daya gerak daripada system kepercayaan kaum katolik. Senada dengan Weber, Robert N. Bellah mengatakan bahwa keberhasilan Bangsa Jepang  sampai sekarang karena dipengaruhi oleh agama Tokugawa yang dianutnya. Semangat bangsa Indonesia yang kurang juga dipengaruhi oleh teologinya yang secara mayoritas berteologi Asy’ari.[4]
            Mahasiswa juga perlu memformulasikan atau menyusun kembali system teologi yang di anutnya. Kesempurnaan intelektualitas mahasiswa adalah dia memiliki system teologi yang mampu menghasilkan daya dobrak yang tinggi terhadap berbagai ketimpangan sosial. Mahasiswa harus mendasarkan setiap aktivitas berfikir dan bertindaknya pada dimensi transendensinya. Karl Marx yang tidak mendasarkan gagasannya pada dimensi ini saja bisa melahirkan sebuah gerakan sosial politik yang sampai hari ini tetap popular kenapa kita yang memiliki kekayaan transendensi masih tertinggal.
            Kedua, humanisasi. Memanusiakan manusia. Realitas ini harus dipahami bahwa perlunya kesadaran yang optimal di kalangan mahasiswa untuk melawan segala bentuk dehumanisasi (tindakan yang tidak menempatkan manusia sebagai manusia). Bentuk-bentuk tindakan dehumanisasi termasuk di antaranya mengekang kebebasan berfikir mahasiswa, membelenggu kreativitas mahasiswa, menjegal partisipasi mahasiswa dan sebagainya.
            Ketiga, liberasi. Implikasi dari humanisasi adalah munculnya daya dorong untuk membebaskan diri dan masyarakat dari situasi dan kondisi yang tidak kondusif.  Membebaskannya dari belenggu kebodohan, keterpurukan, dan keterbelakangan.
            Integrasi dari ketiga dimensi tersebut dapat mengubah paradigma berfikir mahasiswa dan mengejawantahkannya dalam praksis atau tindakan. Sistematika paradigma prifetik tersebut mewakili alur sistematis dari teologi yang berderivasi pada ideology dan sosiologi praksis.

Peranan Organisasi Mahasiswa
            Ide perubahan hanya muncul dari mereka yang peduli perubahan. Perubahan secara sistematis tidak akan terjadi kecuali jika ada pemicu (trigger) dan desainer perubahan. Mahasiswalah di antaranya yang memiliki kemampuan untuk merekayasa dan mendesain perubahan agar sejalan sesuai dengan yang direncanakan (planned social change). Secara personal hanya sedikit saja yang bisa dilakukan mahasiswa karena itu agar banyak hal yang bias dilakukan termasuk di dalamnya melakukan perubahan sosial dari aspek paradigma berfikir mahasiswa, diperlukan adanya organisasi mahasiswa.
            Setidaknya ada beberapa peran yang bisa dioptimalkan oleh organisasi mahasiswa untuk mengubah paradigma berfikir mahasiswa di antaranya : Pertama,  penguatan intelektual, di antara syarat orang bisa eksis adalah karena informasi berupa ilmu pengetahuan yang diperolehnya. Kemudahan dan kecepatan mengakses informasi adalah modal untuk merespon setiap perkembangan yang terjadi meliputi sosial, budaya, politik, hukum dan HAM dan sebagainya. Organisasi mahasiswa yang menyediakan kemudahan mengakses informasi biasanya akan terus eksis dan tidak ketinggalan moment dan pasti dibutuhkan oleh kader dan masyarakat. Lebih lanjut materi informasi akan membuat anggota organisasi mahasiswa memiliki khazanah intelektual yang secara bertahap akan berkembang dan maju. Khazanah intelektual yang berbasis transendensi, humanisasi, dan liberasi. Kedua, melatih responsifitas terhadap kondisi sosial. Informasi yang masuk atau diterima akan disikapi sesuai dengan kapasitas masing-masing mahasiwa yang implikasinya akan melahirkan tindakan yang variatif. Untuk itu organisasi mahasiswa dapat melihat fenomena ini dan menyatukan atau menyamakan persepsi dalam merespon atau menindaklanjutu informasi. Sehingga gerakan yang dilakukan merupakan buah komunikasi efektif  yang konseptual dan sistematis. Ketiga, mampu mengakomodir kepentingan-kepentingan mahasiswa yang sedang mempersiapkan hidup di masyarakat.

Endnote
            Mahasiswa sebagai kaum yang tercerahkan selalu dinanti kontribusi dan karyanya yang bermanfaat bagi masyarakat. Karyanya bisa berupa karya fisik maupun karya jasa bagi kemaslahatan baik dengan partisipasi dalam formulasi dan implementasi kebijakan maupun dalam pengawasannya. Di manapun harus kita buktikan bahwa pantang daerah yang ada komunitas mahasiswanya menjadi daerah yang terbelakang dan termarginalkan.
Yakin usaha sampai.





[2] Untuk memperkaya khazanah intelektual dalam bidang filsafat manusia bisa dibaca pada buku-buku Filsafat seperti Falsafatuna karya  Muh. Baqir Ash-Shadr, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 1991 atau Mengapa Kita diciptakan karya Murtadha Muthari, Lentera, Jakarta. 2001
[3] Kilasannya dapat pula dibaca pada buku Pendidikan Berparadigma Profetik karya Moh. Shofan, UMG Press, Gresik, 2004 hlm 71-98.
[4] Lihat Karya Herman Soewardi, Kognisi-Karsa-Nalar yang mengelaborasi kelemahan-kelemahan umat Islam Indonesia.
[5] Makalah disampaikan pada acara Tamada IAID 17 September 2005 di Aula Jend. Soedirman Darussalam Ciamis
[6] Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ciamis 2005-2006
[7] Lihat dalam buku Jangan Mati Reformasi, HMI dan Ikhiar sejarah Menuju Indonesia Baru yang ditulis oleh Anas urbaningrum, Yayasan Cita mandiri Indonesia, Jakarta, th. 1999 hlm. 35-36
[8] Untuk memperkaya khazanah intelektual dalam bidang filsafat manusia bisa dibaca pada buku-buku Filsafat seperti Falsafatuna karya  Muh. Baqir Ash-Shadr, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 1991 atau Mengapa Kita diciptakan karya Murtadha Muthari, Lentera, Jakarta. 2001
[9] Kilasannya dapat pula dibaca pada buku Pendidikan Berparadigma Profetik karya Moh. Shofan, UMG Press, Gresik, 2004 hlm 71-98.
[10] Lihat Karya Herman Soewardi, Kognisi-Karsa-Nalar yang mengelaborasi kelemahan-kelemahan umat Islam Indonesia.

Minggu, 20 November 2011

MANAJEMEN KEPEMIMPINAN DAN ORGANISASI



A. PENDAHULUAN
            Setiap manusia mempunyai tujuan yang berbeda dalam hidupnya, karena pengaruh pengetahuan dan pengalamannya yang berbeda. Namun setiap manusia akan sama dalam satu hal yaitu ingin mempertahankan hidup dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk mencapai tujuan itu manusia harus melakukan aktivitas-aktivitas tertentu.
            Oleh karena manusia secara kodrat terbatas kemampuannya  maka untuk mencapai tujuannya, manusia memerlukan bantuan dari manusia lainnya. Untuk itu manusia harus bekerja dalam mencapai tujuannya atau berorganisasi.
 Dalam organisasi diperlukan manajemen yaitu sushi untuk mengatur, mengkoordinasikan semua tugas yang dilakukan oleh orang-orang dan mengarahkannya kepada tujuan yang hendak dicapai. Supaya unsur-unsur manajemen tertuju serta terarah kepada tujuan yang diinginkan, maka manajemen harus ada yang mengatur yaitu seorang pemimpin dengan wewenang kepemimpinannya melalui intruksi dan persuasi.
B. KEPEMIMPINAN
1.Definisi kepemimpinan      :
Kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan dalam mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan-tujuan.
2.Tujuan Kepemimpinan
Tujuan kepemimpinan dalam suatu organisasi  adalah menciptakan organisasi (tata kerja bidang) yang dinamis, terkendali guna mencapai tujuan yang telah disepakati bersama.
3. Fungsi Kepemimpinan
Kepemimpinan dalam suatu organisasi merupakan hal yang paling vital, oleh sebab itu seorang pimpinan harus mengetahui fungsi kepemimpinan. Adapun fungsi kepemimpinan yaitu:
a.       mengkoordinasikan para anggotanya.
b.      membuat keputusan dan membuat kebijakan.
c.       mengadakan hubungan kerja/komunikasi dengan baik dan benar ke dalam maupun ke luar.
d.      penghubung antara organisasi yang satu dengan organisasi yang lain.
e.       sebagai konseptor, penggerak. pengarah, pengatur dan pengawas.
f.       pembinaan kerja.

4. Unsur-unsur kepemimpinan
a.                              Adanya pemimpin
Unsur pertama dari kepemimpinan adalah adanya pemimpin; yakni seseorang yang mendorong dan mempengaruhi seseorang atau sekelompok orang lain. Sehingga tercipta hubungan kerja yang serasi dan menguntungkan untuk melakukan berbagai aktivitas tertentu untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
  1. Adanya pengikut
Adanya pengikut; yakni seseorang atau sekelompok orang yang mendapat dorongan atau pengaruh sehingga bersedia dan dapat melakukan berbagai aktivitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
  1. Adanya sifat dan ataupun perilaku tertentu
Adanya sifat ataupun perilaku tertentu yang dimiliki oleh pemimpin yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong dan ataupun mempengaruhi seseorang  atau se kelompok orang.
  1. Adanya situasi dan kondisi tertentu
Adanya situasi dan kondisi tertentu yang memungkinkan terlaksananya kepemimpinan. Situasi dan kondisi yang dimaksud dibedakan atas dua macam: pertama, situasi dan kondisi yang terdapat didalam organisasi; kedua, situasi dan kondisi yang terdapat di luar organisasi yakni lingkungan secara keseluruhan.

5. Syarat-syarat Kepemimpinan
Konsepsi mengenai kepemimpinan itu harus selalu dikaitkan dengan tiga hal penting, yaitu:
a.            Kekuasaan
Kekuasaan adalah kekuataan, otoritas, dan legalitas yang memberikan kewenangan kepada pemimpin untuk mempengaruhi dan menggerakan bawahan agar berbuat sesuatu.
b.             Kewibawaan
Kewibawaan adalah kelebihan, keunggulan/superioritas, keutamaan, sehingga ia mampu mengatur orang lain; dan orang lain akan patuh pada ke-pemimpin-annya, kemudian bersedia melakukan perbuatan-perbuatan tertentu.
c.              Kemampuan
Kemampuan adalah segala daya, kesanggupan, kekuatan dan kecakapan,  keterampilan teknis maupun sosial, yang dianggap melebihi atau lebih unggul dari kemampuan angota biasa.


6.   Gaya Kepemimpinan.
Kepemimpinan dipengaruhi oleh sifat dan prilaku yang dimiliki oleh pemimpin. Karena sifat dan prilaku seseorang tidak akan persis sama, maka gaya kepemimpinan yang diperlihatkan oleh seorang pemimpin dapat berbeda antara satu pemimpin yang satu dengan yang lainnya. Dari berbagai gaya kepimpinan, dapatlah disederhanakan atas empat macam:
  1. Gaya Kepemimpinan Diktator
Pada gaya kepemimpinan ini upaya mencapai tujuan dilakukan dengan menimbulkan ketakutan serta ancaman hukuman, bawahan hanya dianggap sebagai pelaksana dan pekerja saja.
  1. Gaya Kepemimpinan Autokratis
Gaya kepemimpinan ini segala keputusan berada di tangan pemimpin. Pendapat atau kritik dari segala keputusan berada ditangan pemimpin.
  1. Gaya Kepemimpinan Demokratis
Pada gaya ini ditemukan peran serta bawahan dalam pengambilan keputusanyang dilakukan secara musyawarah. Hubungan dengan bawahan dibangun dan dipelihara dengan baik.
  1. Gaya Kepemimpinan Santai
Pada gaya ini hampir tidak terlihat karena segala keputusan diserahkan kepada bawahan. Setiap angota organisasi dapat melakukan kegiatan masing-masing sesuai dengan kehendak.
7. Tipe Kepemimpinan
  1. Tipe deserter
Sifatnya: bermoral rendah, tidak memiliki rasaketerlibatan, tanpa pengabdian,   tanpa loyalitas,dan ketaatan, sukar diramalkan.
  1. Tipe birokrat
Sifatnya:korektif, patuh pada peraturan dan norma-norma, manusia organisasi, tepat, akurat/ cermat, keras, berdisiplan.
  1. Tipe missionary
Sifatnya: terbuka penolong, lembut hati, ramah-tamah, alim, religius.
  1. Tipe developer
Sifatnya; kreatif, dinamis, inovatif, memberikan/melimpahkan wewenang dengan baik, menaruh kepercayaan pada bawahan.
  1. Tipe otokrat
Sifatnya: keras, diktatoris, mau menang sendiri, keras kepala, sombong, bandel.
  1. Benevolent autocrat
Sifatnya: lancar, tertib, ahli dalam mengorganisir, besar rasa keterlibatan diri.
  1. Tipe compromiser
Sifatnya: plintat-plintut, selalu mengikuti angin, tanpa pendirian, tidak mempunyasi keputusan, berpandangan pendek, tak punya kepribadian kuat.
  1. Tipe eksekutif
Sifatnya: bermutu tinggi, dapat memberikan motivasi yang baik, berpandangan jauh, tekun.
C. MANAJEMEN
1. Pengertian Manajemen
                            Manajemen berasal dari kata “to manage” yang artinya mengatur. Pengaturan dilakukan melalui proses dan diatur berdasarkan urutan dan fungsi-fungsi  manajemen. Jadi manajemen merupakan suatu proses untuk mewujudkan tujuan yang ingin dicapai. Berikut beberapa pengertian menurut pakar:
a. Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya mnusia dan           sumberdayalainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan tertentu.(Drs. H. Malayu SP Hasibuan)
b.  Manajemen adalah usaha mencapai tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain.Dengan demikian                 manager mengadakan koordinasi atas sejumlah aktivitas orang lain yang meliputi perencanaan,       pengorganisasian, penempatan, pengarahan dan pengendalian.( Harold Koontz & Cyril           O’Donnel)
2. Tujuan Manajemen
    Tujuan manajemen adalah terciptanya pengelolaan semua program-program secara baik dan   
    teratur  berdasarkan urutan-urutan kebutuhan dan waktu pelaksanaan.
3.       Fungsi Manajemen
Untuk mengelola semua program-program kegiatan yang kemudian teraplikasi kedalam planning, organizing, actuating dan controling.
a.  Planing
Menetapkan apa yang harus dilaksanakan oleh anggota-anggota untuk menyelesaikan pekerjaan, dalam fase pertama ini perlu juga ditetapkan oleh manajer bila dan bagaimana pekerjaan harus diselesaikan.
b.       Organizing
Mendistribusikan atau mengalokasikan tugas-tugas kepada para anggota kelompok, mendelegasikan wewenang dan menetapkan hubungan kerja antar anggota kelompok.


c.       Actuating
            Setelah kegiatan planning dan organizing manajer perlu dapat  menggerakan kelompok secara efesien dan efektif kearah pencapaian tujuan. Dalam menggerakan kelompok ini manajer menggunakan pelbagai sarana misalnya komunikasi, kepemimpinan, perundingan-perundingan, pemberian intruksi dan lain-lain. Kegiatan manajer yang menyebabkan organisasi bergerak atau berjalan lazim disebut penggerakan (actuating).
d.      Controling
            Pada organisasi bergerak atau berjalan manajer harus selalu mengadakan pengawasan atau pengendalian agar gerakan atau jalannya organisasi benar-benar sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan baik mengenai arahnya atau caranya. Dengan rangkaian kegiatan di atas, seorang manajer diharapkan dapat membawa organisasi yang dipimpinnya kearah pencapain tujuan.
4.       Unsur-unsur Manajemen
a.              Input
         Yang dimaksud dengan input/masukan adalah segala sesuatu yang dibutuhkan untuk dapat melaksanakan pekerjaan manajemen.
b.       Proses
         Yang dimaksud dengam proses dalam manajemen adalah langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan..
c.                    Output
         Yang dimaksud dengan keluaran adalah hasil dari suatu pekerjaan manajemen.
d.                  Target 
         Yang dimaksud dengan sasaran/target adalah kepada siapa keluaran yang dihasilkan ditujukan.
e.                    dampak
         Yang dimaksud dengan dampak adalah akibat yang ditimbulkan oleh keluaran.
5.  Asas-Asas Manajemen
            Asas merupakan suatu  pernyatan fundamental atau kebenaran umum yang dapat dijadikan pedoman pemikiran dan tindakan. Asas-asas muncul dari hasil penelitian dan pengalaman. Asas ini sifatnya permanen umum dan setiap ilmu pengetahuan memiliki asas yang mencerminkan intisari kebenaran-kebenaran dasar dalam ilmu tersebut
6.       Sistem-Sistem Manajemen
a.     Manajemen Bapak ( paternalistic management)
             Diartikan bahwa setiap usaha dan aktivitas organisasi para pengikut / bawahan selalu mengikuti jejak bapak. Apa yang dikatakan atau diperintahkan bapak itulah yang benar. Dalam hal ini tidak ada alternative lain kecuali mengikuti bapak.
b.      Manajemen Tertutup (Closed Management)
Manajer tidak memberitahukan/menginformasikan keadaan perusahaan pada para bawahannya walaupun dalam batas-batas tertentu saja. Keputusan-keputusan diambilnya tanpa melibatkan partisipasi para bawahannya dalam proses pengambilan keputusan tersebut.
c.      Manajemen Terbuka (Opened Managenet)
Diterapkan dengan cara sebagai berikut :
- Manajer (atasan) banyak menginformasikan keadaan (rahasia) organisasi kepada anggotanya,Sehingga anggota nya dalam batasa-batasan tertentu mengetahui keadaan organisasi.
- Seorang manajer sebelum mengambil keputusan, terlebih dahulu memberi kesempatan kepada para anggotanya untuk mengemukakan saran-saran dan pendapat-pendapatnya. Tegasnya, manajer mengajak para anggotanya untuk berpartisipasi dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi. Keputusan terakhir berada ditangan manajer.
d.       Manajemen  Demokrasi
      Pelaksanaan manjemen demokrasi hampir sama dengan manajemen terbuka, khususnya dalam proses pengambilan keputusan, dimana para anggota diajak dan ikut sertakan berpartisipasi memberikn saran-saran,pemikiran-pemikiran dan cara-cara pemecahan terhadap masalah-maslah yang dihadapi.
      Manajer/pemimpin selalu terbuka untuk dikritik, menerima saran dan pendapat dari para anggotanya, selalu bekerja sama dalam mencapai tujuan organisasi.

D. ORGANISASI
  1. Pengertian Organisasi
            Organisasi dapat diartikan sebagai “ Kerja sama orang-orang atau sekelompok orang dengan menggunakan dana, alat-alat dan teknologi, serta mau terikat dengan  peraturan-peraturan dan lingkungan tertentu supaya dapat mengarah pada pencapaian tujuan yang diinginkan”.




  1. Tujuan Organisasi

      Tujuan organisasi secara universal adalah tercapainya semua program-program kerja yang telah ditetapkan bersama.
  1. Fungsi Organisasi
      Fungsi organisasi adalah sebagai wadah atau media untuk menyusun program kerja, menyusun taktik, sebagai perkaderan, sebagai sosial-kemasyarakatan, sebagai pembinaan, penggalangan masa. 
  1. Bentuk-Bentuk Organisasi
a.       Organisasi Lini
            Bentuk organisasi ini, pembagian tugas dan wewenang terdapat perbedaan yang tegas antara pimpinan dan pelaksanaan. Peran pemimpin sangat dominan, dimana semua kekuasaan di tangan pemimpin.

b.      Organisasi Staf
            Dalam organisasi ini, tidak begitu tegas garis pemisah antara pimpinan dan staf pelaksanaan. Peran staf bukan sekedar pelaksana perintah pimpinan, namun staf berperan sebagai pembantu pimpinan.
c.       Organisasi Lini dan Staf
            Organisasi ini merupakan gabungan kedua jenis organisasi yaitu lini dan staf. Dalam organisasi ini staf bukan sekadar pelaksana tugas tetapi juga diberikan wewenang untuk memberikan masukan demi tercapainya tujuan secara baik. Demikian juga pimpinan tidak sekedar memberi perintah atau nasihat, tetapi juga bertanggung jawab atas perintah atau nasihat tersebut.
           
  1. Struktur Organisasi
a.       Struktur Sederhana
      Bentuk ini dipakai untuk organisasi-organisasi yang baru berdiri, organisasi-organisasi tersebut dikelola oleh ketua, sekretaris,  dan bendahara.
b.       Membagi Struktur  Fungsional
            Bentuk ini membagi tanggung jawab atas dasar bidang-bidang kebutuhan, stuktur fungsional memungkinkan organisasi mendapatkan keuntungan dari keahlian masing-masing bidang yang tercipta dari profesionalisme diantara ketua bidang.
c.       Struktur Desentralisasi
      Pada saat organisasi berkembang, baik anggota ataupun lembaga-lembaga yang ada bertambah, maka organisasi dapat berkembang sesuai dengan lembaga yang dikelolanya, tetapi masih dalam satu wadah.
d.      Struktur Matrik
      Bentuk ini adalah bentuk yang paling rumit dan yang paling kompleks disbanding dengan bentuk lainnya. Kerumitan dari struktur matrik tersebut berasal dari ketergantungan secara vertical dan horizontal aliran dari wewenang dan komunikasi
E. PENUTUP
            Seorang pemimpin merupakan  elemen yang sangat vital dalam menentukan maju mundurnya sebuah organisasi, sebab sebesar apapun sebuah organisasi kalau tidak dipimpin oleh seorang pemimpin yang mempunyai otoritas, legalitas dan kredibilitas yang bagus akan mengalami perkembangan yang mandul (statis).
            Adapun hal lainnya yang sangat mendukung perkembangan sebuah organisasi adalah manajemen, yakni bagaimana seorang pemimpin dapat memahami dan mempengaruhi anggotanya untuk mencapai tujuan-tujuan yang diharapkan dan semua unsur-unsur dalam sebuah organisasi
            Dengan demikian dapatlah dikemukakan bahwa kepemimpinan merupakan inti dari manajemen. Melalui manajemen semua kegiatan dikoordinir dan diarahkan menuju kepada tujuan yang telah ditetapkan dalam organisasi. Oleh karena itu, manajemen ada pada setiap tingkat organisasi