- Allah berfirman:
"Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat mere-butnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah." (Al-Hajj: 73)
Allah menyeru kepada segenap umat manusia agar mendengar-kan perumpamaan agung yang telah dibuatNya, dengan mengatakan:
"Sesungguhnya para wali dan orang-orang shalih serta lainnya yang kamu berdo'a kepadanya agar menolongmu saat kamu berada dalam kesulitan, sungguh mereka tak mampu melakukannya. Meskipun sekedar menciptakan makhluk yang sangat kecil pun mereka tidak bisa. Menciptakan lalat, misalnya. Bahkan jika lalat itu mengambil dari mereka sejumput makanan atau minuman, mereka tak mampu merebutnya kembali. Ini merupakan bukti atas kelemahan mereka, juga kelemahan lalat. Jika demikian halnya, bagaimana mungkin eng-kau berdo'a kepada mereka, sebagai sesembahan selain Allah?"
Perumpamaan di atas merupakan pengingkaran dan penolakan yang amat keras terhadap orang yang berdo'a dan bermohon kepada selain Allah, baik kepada para nabi atau wali.
- Allah berfirman:
"Hanya bagi Allah lah(hak mengabulkan) do'a yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan do'a (ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka." (Ar-Ra'ad: 14)
Ayat di atas mengandung pengertian bahwa do'a, yang ia merupakan ibadah, wajib hanya ditujukan kepada Allah semata.
Orang-orang yang berdo'a dan memohon kepada selain Allah, tidak mendapatkan manfaat dari orang-orang yang mereka sembah. Mereka tidak bisa memperkenankan do'a barang sedikitpun.
Menurut riwayat dari Ali bin Abi Thalib , -menjelaskan perumpamaan orang yang berdo'a kepada selain Allah- yaitu seperti orang yang ingin mendapatkan air dari tepi sumur (hanya) dengan tangannya. Maka hanya dengan tangannya itu, tentu dia tidak akan mendapatkan air selama-lamanya, apatah lagi lalu air itu bisa sampai ke mulutnya?"
Menurut Mujahid," (seperti orang yang) meminta air dengan lisannya sambil menunjuk-nunjuk air tersebut (tanpa berikhtiar selain-nya), maka selamanya air itu tak akan sampai padanya."
Selanjutnya Allah menetapkan, bahwa hukum orang-orang yang berdo'a kepada selain Allah adalah kafir, do'a mereka hanya sia-sia belaka. Allah berfirman:
"Dan do'a (ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka." (Ar-Ra'ad: 14)
Maka dari itu, wahai saudaraku sesama muslim, jauhilah dari berdo'a dan memohon kepada selain Allah. Karena hal itu akan men-jadikanmu kafir dan tersesat. Berdo'alah hanya kepada Allah semata, sehingga engkau termasuk orang-orang beriman yang mengesakan-Nya.
Tampilkan postingan dengan label ORANG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ORANG. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 19 November 2011
PERUMPAMAAN ORANG YANG BERDO'A KEPADA SELAIN ALLAH
Rabu, 16 November 2011
Globalisasi Menurut 'Orang Dalam'
Buku karya ekonom peraih Nobel, Joseph Stiglitz, ini menjelaskan fungsi dan kekuatan institusi yang mengendalikan globalisasi: IMF, World Bank, dan WTO.Judul: Globalization and Its Discontents
Pengarang: Joseph E. Stiglitz
Terbit: Juni 2002, 192 halaman
Dengan maraknya pemberitaan di media massa, banyak orang makin familiar dengan kontroversi dan dampak yang ditimbulkan globalisasi. Media massa juga menjelaskan 'sihir' apakah globalisasi, yang mengakibatkan tugas-tugas yang rumit. Bagi mereka yang ingin mengkaji lebih lanjut, buku ini merupakan awal yang bagus.
Seorang ekonom brilian, Joseph Stiglitz, memiliki karir yang bagus di akademis sebelum selama empat tahun menjadi penasehat ekonomi pada masa President Clinton, kemudian selama tiga tahun sebagai wakil presiden pada World Bank. Bukunya menjelaskan bagaimana fungsi dan kekuatan institusi yang mengendalikan globalisasi yaitu IMF (International Monetary Fund), World Bank, dan World Trade Organization (WTO)--dan kebijakan mereka, baik maupun buruk.
Stiglitz yakin, globalisasi dapat merupakan kekuatan positif, terutama untuk golongan miskin. Namun, ini jika IMF, World Bank, dan WTO, mengubah cara beroperasi, dimulai dengan meningkatkan transparasi dan kemauan untuk mengkaji kembali aktivitas dan kebijakan mereka.
Stiglitz--pemenang hadiah Nobel dan professor ekonomi Columbia University--menelaah potensi globalisasi yang tak disadari untuk menghapuskan kemiskinan dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Tahun-tahun terakhir, IMF, World Bank, dan WTO telah mendorong stabilitas keuangan dunia, kesejahteraan, dan perdagangan bebas.
Dengan analisa mengenai kekacauan finansial Asia Timur dan Rusia, dia berargumen bahwa IMF telah menjalankan kebijakan yang biasa-biasa saja, yang justru memperparah masalah di tiap daerah tersebut. Ketika dia menemukan model kebijakan yang sama di negara lain yang mengalami krisis, Stiglitz bertanya mengapa institusi publik tidak mengindahkan bukti-bukti kebijakan yang salah tersebut dan tidak melakukan aksi
apapun.
Menjawab pertanyaan sendiri, Stiglitz menyalahkan fundamental pasar, yang mendorong pandangan bahwa pasar bebas menyelesaikan semua masalah dengan benar. Seperti diindikasikan oleh Stiglitz, kebijakan ekonomi "satu-ukuran-untuk-semua" justru dapat menghancurkan negara-negara tersebut, ketimbang menolong negara-negara tersebut yang memiliki keadaan keuangan, pemerintahan, institusi sosial yang berbeda-beda. Dia menghimbau agar institusi publik melakukan reformasi, menjadi lebih transparan, dan bertanggung jawab terhadap apa yang tengah terjadi.
Stiglitz juga membagi informasi internal dari pertemuan sidang kabinet saat ia menjadi ahli ekonomi di World Bank, menceritakan bagaimana debat yang terjadi di ruang konferensi Washington. Dia menulis tentang World Bank, "Keputusan dibuat berdasarkan hal yang terlihat seperti campuran ideologi dan ekonomi yang buruk, dogma yang menutupi kepentingan tertentu ... bahkan diskusi terbuka sulit dilakukan--tak ada kesempatan untuk itu."
Tulisan dan studi yang sungguh smart ini memberi kontribusi pada globalisasi yang saat ini diperdebatkan dan menyuguhkan suatu model analisa mengenai proses untuk membantu negara-negara yang sedang menghadapi pembangunan ekonomi dan transformasi.
Dia juga menyatakan, mereka yang menganggap remeh globalisasi terlalu dini untuk melihat sisi positifnya. Stiglitz menulis, menjelaskan bagaimana globalisasi, dengan bantuan luar negerinya, telah memperbaiki standar kehidupan jutaan orang di seluruh dunia.[]
ORANG YANG DIMANDIKAN MALAIKAT
GHASILIL MALAIKAT (ORANG YANG DIMANDIKAN MALAIKAT)
Mekah menggelegak terbakar kebencian terhadap orang-orang Muslim karena kekalahan mereka di Perang Badr dan terbunuhnya sekian banyak pemimpin dan bangsawan mereka saat itu. Hati mereka membara dibakar keinginan untuk menuntut balas. Bahkan karenanya Quraisy melarang semua penduduk Mekah meratapi para korban di Badr dan tidak perlu terburu-buru menebus para tawanan, agar orang-orang Muslim tidak merasa diatas angin karena tahu kegundahan dan kesedihan hati mereka.
Hingga tibalah saatnya Perang Uhud. Di antara pahlawan perang yang bertempur tanpa mengenal rasa takut pada waktu itu adalah Hanzhalah bin Abu Amir. Ayahnya adalah seorang tabib yang disebut si Fasik. Hanzhalah baru saja melangsungkan pernikahan. Saat mendengar gemuruh pertempuran, yang saat itu dia masih berada dalam pelukan istrinya, maka dia segera melepaskan pelukan istrinya dan langsung beranjak untuk berjihad. Saat sudah terjun kekancah pertempuran berhadapan dengan pasukan musyrikin, dia menyibak barisan hingga dapat berhadapan langsung dengan komandan pasukan musuh, Abu Sufyan bin Harb. Pada saat itu dia sudah dapat menundukan Abu Sufyan, namun hal itu diketahui oleh Syaddad bin Al-Aswad yang kemudian menikamnya hingga meninggal dunia sebagai syahid. Tatkala perang usai dimana kaum muslimin menghimpun jasad para syuhada dan akan menguburkannya, mereka kehilangan usungan mayat Hanzhalah. Setelah mencari kesana kemari, mereka mendapatkannya di sebuah gundukan tanah yang masih menyisakan guyuran air disana. Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam mengabarkan kepada para shahabatnya bahwa malaikat sedang memandikan jasadnya. Lalu beliau bersabda, "Tanyakan kepada keluarganya, ada apa dengan dirinya?" Lalu mereka bertanya kepada istrinya, dan dikabarkan tentang keadaannya sedang junub saat berangkat perang. Dari kejadian ini Hanzhalah mendapatkan julukan Ghasilul Malaikat (Orang yang dimandikan malaikat). Wallahu ta'ala 'alam Sumber: Sirah Nabawiyah
Langganan:
Postingan (Atom)
