Tampilkan postingan dengan label SYIRIK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SYIRIK. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 November 2011

KERUSAKAN DAN BAHAYA SYIRIK



 
Perbuatan syirik menyebabkan kerusakan dan bahaya yang besar, baik dalam kehidupan pribadi maupun masyarakat. Adapun kerusakan dan bahaya yang paling menonjol adalah:
  1. Syirik menghinakan eksistensi kemanusiaan:

    Syirik menghinakan kemuliaan manusia, menurunkan derajat dan martabatnya. Sebab Allah menjadikan umat manusia sebagai khalifah di muka bumi. Allah memuliakannya, mengajarkannya seluruh nama-nama, lalu menundukkan baginya apa yang ada di langit dan di bumi semuanya. Allah menjadikannya penguasa di jagad raya ini.

    Tetapi kemudian ia tidak mengetahui derajat dan martabat diri-nya. Ia lalu menjadikan sebagian dari makhluk Allah sebagai tuhan dan sesembahan. Ia tunduk dan menghinakan diri padanya.

    Berbagai kehinaan tersebut, –hingga hari ini– amat banyak untuk bisa disaksikan. Ratusan juta orang di India menyembah sapi yang diciptakan Allah buat manusia, agar mereka menggunakan hewan itu untuk membantu meringankan pekerjaannya atau menyembelihnya untuk dimakan dagingnya.

    Sebagian umat Islam menginap dan tinggal di kuburan untuk meminta berbagai kebutuhan mereka. Padahal, orang-orang yang mati itu juga hamba Allah seperti mereka. Tidak bisa mendatangkan manfaat atau bahaya untuk mereka sendiri.

    Al-Husain bin Ali misalnya, ia tidak bisa menyelamatkan dirinya dari pembunuhan. Lalu bagaimana mungkin kemudian ia bisa menolak bahaya yang menimpa orang lain dan mendatangkan manfaat kepadanya?

    Orang-orang yang meninggal itu justru amat membutuhkan do'a dari orang-orang yang masih hidup. Kita mendo'akan mereka, tidak berdo'a dan memohon kepadanya, sebagai sesembahan selain Allah. Allah berfirman:

    "Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang. (Berhala-berhala) itu benda mati, tidak hidup, dan berhala-berhala itu tidak mengetahui, bilakah pe-nyembah-penyembahnya akan dibangkitkan." (An-Nahl: 20-21)

    "Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh bu-rung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh." (Al-Hajj: 31)
     
  2. Syirik adalah sarang khurafat dan kebatilan:

    Sebab orang yang mempercayai adanya sesuatu yang bisa mem-beri pengaruh selain Allah di alam ini, baik berupa bintang, jin, arwah atau hantu berarti menjadikan akalnya siap menerima segala macam khurafat (takhayul), serta mempercayai para dajjal (pendusta).

    Karena itu, dalam sebuah masyarakat yang akrab dengan ke-musyrikan, "barang dagangan" dukun, tukang nujum, ahli sihir dan semacamnya menjadi laku keras. Sebab mereka mendakwakan dirinya bisa mengetahui ilmu ghaib, yang sesungguhnya tak seorang pun mengetahuinya kecuali Allah. Di samping itu, dalam masyarakat se-macam ini, mereka sudah tak mengindahkan lagi ikhtiar dan mencari sebab, serta meremehkan sunnah kauniyah (hukum alam).
     
  3. Syirik adalah kezhaliman yang sangat besar:

    Yaitu zhalim terhadap hakikat. Sebab hakikat yang paling agung adalah  "Tidak ada Tuhan (yang berhak di sembah) selain Allah", Tidak ada Rabb (pengatur) selain Allah, tidak ada Penguasa selainNya.

    Adapun orang-orang yang musyrik, mereka mengambil selain Allah sebagai Tuhan, serta mengambil selainNya sebagai penguasa. Syirik merupakan kezhaliman dan penganiayaan terhadap diri sendiri. Sebab seorang musyrik menjadikan dirinya sebagai hamba bagi makh-luk sesamanya, bahkan mungkin lebih rendah dari dirinya. Padahal Allah menjadikannya sebagai makhluk yang merdeka.

    Syirik juga merupakan penganiayaan terhadap orang lain, sebab orang yang disekutukan dengan Allah telah ia aniaya, lantaran ia memberikan hak padanya, apa yang sebenarnya bukan miliknya.
     
  4. Syirik sumber dari segala ketakutan dan kecemasan:

    Orang yang akalnya menerima berbagai macam khurafat dan mempercayai kebatilan akan diliputi ketakutan dari berbagai arah. Sebab ia menyandarkan dirinya pada banyak tuhan. Padahal tuhan-tuhan itu lemah dan tak kuasa memberi manfaat atau menolak bahaya bagi dirinya.

    Karena itu, dalam sebuah masyarakat yang akrab dengan ke-musyrikan, putus asa dan ketakutan tanpa sebab adalah sesuatu hal yang lumrah dan banyak terjadi. Allah berfirman:
    "Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa ta-kut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah Neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zhalim." (Ali Imran: 151)
     
  5. Syirik membuat orang malas melakukan pekerjaan yang ber-manfaat:

    Sebab syirik mengajarkan kepada para pengikutnya untuk meng-andalkan para perantara, sehingga mereka meninggalkan amal shalih. Sebaliknya mereka melakukan perbuatan dosa, dengan i'tiqad bahwa mereka akan memberinya syafa'at (pertolongan) di sisi Allah. Dan ini-lah yang merupakan kepercayaan orang-orang Arab jahiliyah sebelum kedatangan Islam. Allah berfirman tentang mereka:
    "Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfa'atan, dan mereka berkata, 'Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah.'Katakanlah, 'Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahuiNya baik di langit dan tidak (pula) di bumi.' Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan (itu)." (Yunus: 18)

    Orang-orang Kristen yang melakukan berbagai macam kemung-karan juga mempercayai bahwa Al-Masih telah menghapus dosa-dosa mereka, ketika ia disalib. Demikian menurut anggapan mereka.

    Demikian pula sebagian umat Islam, mereka meninggalkan ber-bagai kewajiban, melakukan ragam perbuatan haram, tetapi mereka tetap mengandalkan syafa'at Rasul mereka agar dapat masuk Surga. Padahal Rasulullah
    r kepada putrinya sendiri berkata:

    "Wahai Fatimah binti Muhammad, mintalah dari hartaku seke-hendakmu, (tetapi) aku tidak bermanfaat sedikitpun bagimu di sisi Allah." (HR. Al-Bukhari)
     
  6. Syirik menyebabkan abadi di dalam Neraka:

    Syirik menyebabkan kesia-siaan dan kehampaan di dunia. Sedang di akhirat, menyebabkan pelakunya abadi di dalam Neraka. Allah berfirman:
    "Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka, Tidaklah bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun." (Al-Maa'idah: 82)

    Rasulullah bersabda:

    "Barangsiapa meninggal sedang ia berdo'a (memohon) kepada selain Allah sebagai tandingan (sekutu), niscaya ia masuk Nera-ka." (HR. Al-Bukhari)
     
  7. Syirik memecah belah umat:

    Allah berfirman:
    "Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang memperseku-tukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama me-reka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golong-an merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mere-ka." (Ar-Ruum: 31-32)
KESIMPULAN:
Semua pembahasan di muka, memberikan kejelasan kepada kita bahwa syirik adalah sebesar-besar perkara yang wajib kita menjaga diri daripadanya. Kita harus bersih dari perbuatan syirik. Takut jika kita terjerumus ke dalamnya, karena ia adalah dosa yang paling besar. Di samping itu, syirik juga bisa menghapuskan pahala amal shalih yang ia lakukan. Bahkan amalan yang terkadang bermanfaat untuk kepentingan umat dan kemanusiaan.

Allah berfirman:
"Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan." (Al-Furqaan: 23)

FENOMENA SYIRIK



 
Fenomena dan kenyataan perbuatan syirik yang bertebaran di dunia Islam merupakan sebab utama terjadinya musibah yang me-nimpa umat Islam. Juga sebab dari berbagai fitnah, kegoncangan dan peperangan serta berbagai siksa lainnya yang ditimpakan Allah atas kaum muslimin.
Hal itu terjadi karena mereka berpaling dari tauhid, serta karena perbuatan syirik yang mereka lakukan dalam aqidah dan perilaku mereka.
Bukti yang jelas dari hal itu adalah apa yang kita saksikan di sebagian besar negara-negara Islam. Berbagai fenomena kemusyrikan, justru oleh sebagian besar umat Islam dianggap sebagai bagian dari ajaran Islam, karena itu mereka tidak mengingkari dan menolaknya.
Islam datang untuk menghancurkan berbagai bentuk kemusy-rikan, atau berbagai fenomena yang menyebabkan seseorang terjeru-mus ke perbuatan syirik. Di antara fenomena syirik yang terjadi ialah:
  1. Berdo'a kepada selain Allah:

    Hal ini tampak jelas dalam nyanyian-nyanyian dan senandung mereka, yang sering diperdengarkan pada peringatan maulid atau pada peringatan-peringatan bersejarah lainnya.
    Penulis pernah mendengar mereka menyanyikan kasidah.

    "Wahai imam para rasul, wahai sandaranku.
    Engkau adalah pintu Allah, dan tempat aku bergantung.
    Di dunia serta akhiratku.
    wahai Rasulullah, bimbinglah diriku.
    Tak ada yang menggantikanku dari kesulitan kepada kemudahan, kecuali engkau, wahai mahkota yang hadir"

    Seandainya Rasulullah mendengar nyanyian di atas, tentu Rasulullah akan berlepas diri daripadanya. Sebab tidak ada yang bisa mengubah dari kesulitan menjadi kemudahan kecuali Allah semata. Nyanyian-nyanyian dan pujian yang sama, banyak kita jumpai di koran-koran, majalah dan buku. Di antara isinya adalah memohon pertolongan, bantuan dan kemenangan kepada Rasulullah, para wali dan orang-orang shalih yang sebenarnya mereka tidak mampu melakukannya.
     
  2. Mengubur para wali dan orang-orang shalih di dalam masjid:

    Banyak kita saksikan di negara-negara Islam, kuburan berada di dalam masjid. Terkadang di atas kuburan itu dibangun kubah, lalu orang-orang datang memintanya, sebagai sesembahan selain Allah. Rasulullah r melarang hal ini dengan sabdanya:

    "Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka men-jadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid (atau tempat bersujud menyembah Tuhan)." (Muttafaq alaih)

    Jika menguburkan para nabi di dalam masjid tidak diperintahkan, bagaimana mungkin dibolehkan mengubur para syaikh dan ulama di dalamnya? Apakah lagi telah dimaklumi, kadang-kadang orang yang dikubur tersebut dijadikan tempat berdo'a dan meminta, sebagai se-sembahan selain Allah. Karena itu ia merupakan sebab timbulnya per-buatan syirik. Islam mengharamkan syirik dan mengharamkan peran-tara yang bisa menyebabkan kepadanya.
     
  3. Nadzar untuk para wali:

    Sebagian manusia ada yang melakukan nadzar berupa binatang sembelihan, harta atau lainnya untuk wali tertentu. Nadzar semacam ini adalah syirik dan wajib tidak dilangsungkan. Sebab nadzar adalah ibadah, dan ibadah hanyalah untuk Allah semata. Adapun contoh na-dzar yang dibenarkan adalah sebagaimana yang dilakukan oleh isteri Imran. Allah Ta'ala berfirman:

    "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menadzarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis)," (Ali Imran: 35)
     
  4. Menyembelih di kuburan para nabi atau wali:

    Meskipun penyembelihan yang dilakukan dikuburan para nabi atau wali dengan niat untuk Allah, tetapi ia termasuk perbuatan orang-orang musyrik. Mereka menyembelih binatang di tempat berhala dan patung-patung wali mereka. Rasulullah bersabda:

    "Allah melaknat orang yang menyembelih selain Allah." (HR. Muslim)
     
  5. Thawaf sekeliling kuburan para wali:

    Seperti mengelilingi kuburan Syaikh Abdul Qadir Jaelani, Syaikh Rifa'i, Syaikh Badawi, Syaikh Al-Husain, dan lainnya. Perbuatan semacam ini adalah syirik, sebab thawaf adalah ibadah, dan ia tidak boleh dilakukan kecuali thawaf di sekeliling Ka'bah, Allah berfirman:

    "Dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah)." (Al-Hajj: 29)
     
  6. Shalat kepada kuburan:

    Shalat kepada kuburan adalah tidak boleh. Rasulullah bersabda:

    "Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan jangan pula shalat kepadanya." (HR. Muslim)
     
  7. Melakukan perjalanan (tour) menuju kuburan:

    Melakukan perjalanan (tour) menuju kuburan tertentu untuk mencari berkah atau memohon kepadanya adalah tidak diperbolehkan. Rasulullah bersabda:

    "Tidaklah dilakukan perjalanan (tour) kecuali kepada tiga mas-jid; Masjidil Haram, Masjidku ini, Masjidil Aqsha." (Muttaffaq 'alaih)

    Jika kita ingin pergi ke Madinah Al-Munawwarah misalnya, kita boleh mengatakan, "Kami pergi untuk berziarah ke Masjid Nabawi kemudian memberi salam (do'a) kepada Nabi Muhammad ."
     
  8. Berhukum dengan selain yang diturunkan Allah :

    Mengambil hukum selain yang diturunkan Allah adalah syirik. Seperti menentukan hukum dengan perundang-undangan yang dibuat oleh manusia, yang bertentangan dengan Al-Qur'anul Karim dan ha-dits shahih yaitu jika ia meyakini diperbolehkannya mengamalkan undang-undang buatan manusia.

    Termasuk di dalamnya adalah fatwa yang dikeluarkan oleh sebagian syaikh yang bertentangan dengan nash-nash Al-Qur'an dan hadits shahih. Seperti fatwa dihalalkannya riba, padahal Allah Ta'ala memaklumkan perang terhadap pelakunya.
     
  9. Ta'at kepada para penguasa, ulama atau syaikh:

    Yaitu keta'atan kepada mereka dengan menyelisihi dan menentang nash Al-Qur'an dan hadits shahih. Syirik semacam ini "Syirkut thaa'ah" (syirik keta'atan) Rasulullah bersabda:

    "Tidak ada keta'atan kepada makhluk dalam hal maksiat kepada Al-Khaliq (Allah)." (HR. Ahmad, hadits shahih)

     Allah berfirman:
    "Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib me-reka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhan-kan) Al-Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Mahaesa; tidak ada Tuhan (yang ber-hak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (At-Taubah: 31)

    Hudzaifah menafsirkan ibadah dengan keta'atan terhadap apa yang dihalalkan dan diharamkan oleh ulama Yahudi kepada kaumnya.

MACAM-MACAM SYIRIK KECIL



 
Syirik kecil yaitu setiap perantara yang mungkin menyebabkan kepada syirik besar, ia belum mencapai tingkat ibadah, tidak men-jadikan pelakunya keluar Islam, akan tetapi ia termasuk dosa besar.
Macam-macam Syirik kecil:
  1. Riya' dan melakukan suatu perbuatan karena makhluk:

    Seperti seorang muslim yang beramal dan shalat karena Allah, tetapi ia melakukan shalat dan amalnya dengan baik agar dipuji manusia. Allah I berfirman:
    "Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhan-nya." (Al-Kahfi: 100)

    Rasulullah bersabda:

    "Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu sekalian adalah syirik kecil, riya'. Pada hari Kiamat, ketika memberi balasan manusia atas perbuatannya, Allah berfirman, "Pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian tujukan amalanmu kepada mereka di dunia. Lihatlah, apakah engkau dapati balasan di sisi mereka?" (HR. Ahmad, hadits shahih)
     
  2. Bersumpah dengan nama selain Allah:

    Rasulullah bersabda:

    "Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka dia telah berbuat syirik." (HR. Ahmad, hadits shahih)

    Bisa jadi bersumpah dengan nama selain Allah termasuk syirik besar. Yaitu jika orang yang bersumpah tersebut meyakini bahwa sang wali memiliki kemampuan untuk menimpakan bahaya atas dirinya, jika ia bersumpah dusta dengan namanya.
     
  3. Syirik khafi :

    Ibnu Abbas menafsirkan syirik khafi dengan ucapan seseorang kepada temannya, "Atas kehendak Allah dan atas kehendak kamu."

    Termasuk syirik khafi adalah ucapan seseorang, "Seandainya bukan karena Allah, kemudian (seandainya bukan karena) si fulan."

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah,

    "Jangan mengatakan, 'Atas kehendak Allah, dan atas kehendak si fulan.' Tetapi katakanlah, 'Atas kehendak Allah, kemudian atas kehendak si fulan'." (HR. Ahmad dan lainnya, hadits shahih)

CARA MENGHILANGKAN SYIRIK



 
Menghilangkan syirik kepada Allah, belum akan sempurna kecuali dengan menghilangkan tiga macam syirik:
  1. Syirik dalam perbuatan Tuhan:

    Yaitu beri'tikad bahwa di samping Allah, terdapat pencipta dan pengatur yang lain. Sebagaimana yang diyakini sebagian orang-orang shufi, bahwa Allah menguasakan sebagian urusan kepada beberapa waliNya untuk mengaturnya. Suatu keyakinan, yang hingga orang-orang musyrik sebelum Islam pun tidak pernah mengatakannya. Bah-kan ketika Al-Qur'an menanyakan siapa yang mengatur segala urusan, mereka menjawab: "Allah". Seperti ditegaskan dalam firmanNya:
    "Dan siapakah yang mengatur segala urusan? Mereka menja-wab 'Allah'." (Yunus: 31)

    Penulis pernah membaca kitab "Al-Kaafii Firrad alal Wahabi" yang pengarangnya seorang shufi. Di antara isinya adalah, "Sesung-guhnya Allah memiliki beberapa hamba yang bila mengatakan kepada sesuatu; Jadilah! Maka ia akan terjadi."
    Sungguh dengan tegas Al-Qur'an mendustakan apa yang ia dak-wahkan itu. Allah berfirman:
    "Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, "Jadilah!" maka terjadilah ia." (Yaasiin: 82)
    "Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah." (Al-A'raaf: 54)
     
  2. Syirik dalam ibadah dan do'a:

    Yaitu di samping ia beribadah dan berdo'a kepada Allah, ia beribadah dan berdo'a pula kepada para nabi dan orang-orang shalih.
    Seperti istighatsah (meminta pertolongan) kepada mereka, berdo'a kepada mereka di saat kesempatan atau kelapangan. Ironinya, justru hal ini banyak kita jumpai di kalangan umat Islam. Tentu, yang menanggung dosa terbesarnya adalah sebagian syaikh (guru) yang mendukung perbuatan syirik ini dengan dalih tawassul.

    Mereka menamakan perbuatan tersebut dengan selain nama yang sebenarnya. Karena tawassul adalah memohon kepada Allah dengan perantara yang disyari'atkan. Adapun apa yang mereka lakukan ada-lah memohon kepada selain Allah. Seperti ucapan mereka:

    "Tolonglah kami wahai Rasulullah, wahai Jaelani, wahai Badawi ..."

    Permohonan seperti di atas adalah ibadah kepada selain Allah, sebab ia merupakan do'a (permohonan). Sedangkan Rasulullah bersabda:

    "Do'a adalah ibadah." (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, hadits hasan shahih)
    Di samping itu pertolongan tidak boleh dimohonkan kecuali kepada Allah semata. Allah berfirman:
    "Dan (Allah) membanyakkan harta dan anak-anakmu," (Nuh: 12)
    Termasuk syirik dalam ibadah adalah "syirik hakimiyah". Yaitu jika sang hakim, penguasa atau rakyat meyakini bahwa hukum Allah tidak sesuai lagi untuk diterapkan, atau dia membolehkan diberlaku-kannya hukum selain hukum Allah.
     
  3. Syirik dalam sifat:

    Yaitu dengan menyifati sebagian makhluk Allah, baik para nabi, wali atau lainnya dengan sifat-sifat yang khusus milik Allah. Menge-tahui hal-hal yang ghaib, misalnya. Syirik semacam ini banyak terjadi di kalangan shufi dan orang-orang yang terpengaruh oleh mereka. Seperti ucapan Bushiri, ketika memuji Nabi:
"Sesungguhnya, di antara kedermawananmu adalah dunia dan kekayaan yang ada di dalamnya Dan di antara ilmumu adalah ilmu Lauhul Mahfuzh dan Qalam.

Dari sinilah kemudian terjadi kesesatan para dajjal (pembohong) yang mendakwakan dirinya bisa melihat Rasulullah  dalam keadaan jaga. Lalu –menurut pengakuan para dajjal itu– mereka menanyakan kepada beliau tentang rahasia jiwa orang-orang yang bergaul dengan-nya. Para dajjal itu ingin menguasai sebagian urusan manusia. Padahal Rasulullah  semasa hidupnya saja, tidak mengetahui hal-hal yang ghaib tersebut, sebagaimana ditegaskan oleh Al-Qur'an:
"Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku mem-buat kebajikan yang sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan." (Al-A'raaf: 188)

Jika semasa hidupnya saja beliau tidak mengetahui hal-hal yang ghaib, bagaimana mungkin beliau bisa mengetahuinya setelah beliau wafat dan berpindah ke haribaan Tuhan Yang Maha Tinggi? "Ketika Rasulullah mendengar salah seorang budak wanita mengatakan, 'Dan di kalangan kita terdapat Nabi yang mengetahui apa yang terjadi besok hari.' Maka Rasulullah berkata kepadanya,

"Tinggalkan (ucapan) ini dan berkatalah dengan yang dahulu-nya (biasa) engkau ucapkan'." (HR. Al-Bukhari)

Kepada para rasul itu, memang terkadang ditampakkan sebagian masalah-masalah ghaib, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah:

"(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada rasul yang diridhaiNya." (Al-Jin: 26-27)