Tampilkan postingan dengan label CARA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CARA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 November 2011

CARA MENCINTAI ALLAH DAN RASULNYA



 
  • Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman,

    "Katakanlah, 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu'. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (Ali Imran: 31)
     
  • Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam bersabda,

    "Tidaklah beriman (secara sempurna) salah seorang dari kamu sehingga aku lebih ia cintai daripada orangtuanya, anaknya dan segenap manusia." (HR. Al-Bukhari)
     
  • Ayat di atas menunjukkan bahwa kecintaan kepada Allah adalah dengan mengikuti apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam. Menta'ati apa yang beliau perintahkan dan meninggalkan apa yang beliau larang, menurut hadits-hadits shahih yang beliau jelaskan kepada umat manusia. Tidaklah kecintaan itu dengan banyak bicara dengan tanpa mengamalkan petunjuk, perintah dan sunnah-sunnah beliau.
     
  • Adapun hadits shahih di atas, ia mengandung pengertian bahwa iman seorang muslim tidak sempurna, sehingga ia mencintai Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam melebihi kecintaannya terhadap anak, orang tua dan segenap manusia, bahkan –sebagaimana ditegaskan dalam hadits lain– hingga melebihi kecintaannya terhadap dirinya sendiri.

    Pengaruh kecintaan itu tampak ketika terjadi pertentangan antara perintah-perintah dan larangan-larangan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam dengan hawa nafsunya, keinginan isteri, anak-anak serta segenap manusia di sekeli-lingnya. Jika ia benar-benar mencintai Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam, ia akan mendahulukan perintah-perintahnya dan tidak menuruti kehendak nafsunya, keluarga atau orang-orang di sekelilingnya. Tetapi jika kecintaan itu hanya dusta belaka maka ia akan mendurhakai Allah dan RasulNya, lalu menuruti setan dan hawa nafsunya.
     
  • Jika anda menanyakan kepada seorang muslim, "Apakah anda mencintai Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam ?" Ia akan menjawab, "Benar, aku korbankan jiwa dan hartaku untuk beliau." Tetapi jika selanjutnya ditanyakan, "Kenapa anda mencukur jenggot dan melanggar perintahnya dalam masalah ini dan itu, dan anda tidak meneladaninya dalam penampilan, akhlak dan ketauhidan Nabi?"

    Dia akan menjawab, "Kecintaan itu letaknya di dalam hati. Dan alhamdulillah, hati saya baik." Kita mengatakan padanya, "Seandainya hatimu baik, niscaya akan tampak secara lahiriah, baik dalam penampilan, akhlak maupun keta'atanmu dalam beribadah mengesakan Allah semata. Sebab Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam bersabda,

    "Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad itu terdapat segumpal daging. Bila ia baik maka akan baiklah seluruh jasad itu, dan bila ia rusak maka akan rusaklah seluruh jasad itu. Ketahuilah, ia adalah hati." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
     
  • Suatu kali, penulis bersilaturrahim kepada seorang dokter muslim. Penulis melihat banyak gambar orang laki-laki dan perempuan di pajang di dinding. Penulis lalu mengingatkannya dengan larangan Rasulullah dalam soal memajang gambar-gambar. Tetapi ia menolak sambil mengatakan, "Mereka kawan-kawan saya di universitas."

    Padahal sebagian besar dari mereka adalah orang-orang kafir. Apalagi para wanitanya yang memperlihatkan rambut dan perhiasannya di dalam gambar tersebut, dan mereka berasal dari negeri komu-nis. Sang dokter ini juga mencukur jenggotnya. Penulis berusaha menasihati, tetapi ia malah bangga dengan dosa yang ia lakukan, seraya mengatakan bahwa ia akan mati dalam keadaan mencukur jenggot.

    Suatu hal yang mengherankan, dokter yang melanggar ajaran-ajaran Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam tersebut mengaku bahwa ia mencintai Nabi. Ke-pada penulis ia berkata, "Katakanlah wahai Rasulullah, aku ada dalam perlindunganmu!"

    Dalam hati penulis berkata, "Engkau mendurhakai perintahnya, bagaimana mungkin akan masuk dalam perlindungannya. Dan, apakah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam akan rela dengan syirik tersebut? Sesungguhnya kita dan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam berada di bawah perlindungan Allah semata."
     
  • Kecintaan kepada Rasulullah adalah tidak dengan menyelenggarakan peringatan, pesta, berhias, dan menyenandungkan syair yang tak akan lepas dari kemungkaran. Demikian pula tidak dengan berbagai macam bid'ah yang tidak ada dasarnya dalam ajaran syari'at Islam. Tetapi, kecintaan kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam adalah dengan mengikuti petunjuknya, berpegang teguh dengan sunnahnya serta dengan menerapkan ajaran-ajarannya.

    Sungguh, alangkah indah ungkapan penyair tentang kecintaan sejati di bawah ini.
    "Jika kecintaanmu itu sejati,niscaya engkau akan menta'atinya.
    Sesungguhnya seorang pecinta, kepada orang yang dicintainya akan selalu ta'at setia."

SEBAB TERJADINYA MUSIBAH DAN CARA PENANGGULANGANNYA


Al-Qur'anul Karim telah menyebutkan beberapa sebab terjadinya musibah, berikut bagaimana Allah menghilangkan musibah tersebut dari para hambaNya. Di antaranya adalah firman Allah,
"Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerah-kanNya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada ada diri mereka sendiri." (Al-Anfaal: 53)
"Dan apa saia musibah yang menimpa kamu maka adalah dise-babkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." (Asy-Syuuraa: 30)
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena  perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali jalan yang benar)." (Ar-Ruum: 41)
"Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rizkinya datang ke-padanya melimpah ruah dari  segenap tempat, tetapi (penduduk)-nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah merasa-kan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebab-kan apa yang selalu mereka perbuat." (An-Nahl: 112)
Ayat-ayat yang mulia ini memberi pengertian kepada kita bahwa Allah adalah Maha Adil dan Maha Bijaksana. Ia tidak akan menurun-kan bala' dan bencana atas suatu kaum kecuali karena perbuatan maksiat, dan pelanggaran mereka terhadap perintah-perintah Allah. Lebih-lebih karena jauhnya mereka dari tauhid, serta tersebar luasnya berbagai perbuatan syirik di banyak negara-negara Islam. Hal yang menyebabkan timbulnya banyak fitnah dan ujian. Berbagai musibah itu tidak akan hilang kecuali dengan kembali mentauhidkan Allah, dan menegakkan syari'at-syari'atNya baik terhadap pribadi maupun masyarakat.
Al-Qur'an juga menjelaskan keadaan orang-orang musyrik yang berdo'a kepada Allah dengan mengesakanNya saat ditimpa musibah dan kesempitan. Tetapi ketika Allah membebaskan mereka dari musi-bah dan kesempitan tersebut, mereka kembali lagi kepada perbuatan syirik, menyembah dan memohon kepada selain Allah di waktu senang dan lapang. Allah berfirman,
"Maka apabila mereka naik kapal, mereka mendo'a kepada Allah dengan memurnikan keta'atan kepadaNya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)." (Al-'Ankabuut: 65)
Ironinya, mayoritas umat Islam saat ini, manakala ditimpa musi-bah, mereka memohon pertolongan kepada selain Allah, mereka me-nyeru, "Ya Rasulullah, ya Syaikh Jailani, ya Syaikh Rifa'i, ya Syaikh Marghani, ya Syaikh Badawi, ya Syaikh Arab ... dan sebagainya."
Mereka menyekutukan Allah di masa sempit dan lapang, me-langgar firman Allah serta sabda RasulNya.
Sesungguhnya kekalahan umat Islam ketika perang Uhud adalah disebabkan oleh sebagian para pemanah yang tidak menta'ati perintah pemimpin mereka, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam . Anehnya, mereka heran atas kekalahan yang mereka derita. Maka dengan tegas Al-Qur'an menjawab,
"Katakanlah, 'Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri." (Al-Imran: 165)
Ketika dalam perang Hunain, sebagian umat Islam berkata, "Kita tak akan terkalahkan oleh pasukan yang berjumlah sedikit." Dan hasil-nya adalah mereka kalah. Allah mencela mereka dalam firmanNya,
"Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu men-jadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfa'at kepadamu sedikit pun." (At-Taubah: 25)
Umar bin Khaththab menulis surat kepada panglima Sa'ad bin Abi Waqqash di Irak, "Janganlah kalian mengatakan, 'Sesungguhnya musuh kita lebih jahat daripada kita sehingga tak mungkin mereka mengalahkan dan menguasai kita'. Sebab terkadang suatu kaum di-kuasai oleh kaum yang lebih jahat dari mereka sebagaimana kaum Bani Israil dikuasai oleh orang-orang kafir Majusi disebabkan oleh perbuatan maksiat mereka. Maka, mohonlah pertolongan kepada Allah atas diri kalian, sebagaimana mohon pertolongan atas musuh-musuh kalian'."

Sabtu, 19 November 2011

CARA MENGHILANGKAN SYIRIK



 
Menghilangkan syirik kepada Allah, belum akan sempurna kecuali dengan menghilangkan tiga macam syirik:
  1. Syirik dalam perbuatan Tuhan:

    Yaitu beri'tikad bahwa di samping Allah, terdapat pencipta dan pengatur yang lain. Sebagaimana yang diyakini sebagian orang-orang shufi, bahwa Allah menguasakan sebagian urusan kepada beberapa waliNya untuk mengaturnya. Suatu keyakinan, yang hingga orang-orang musyrik sebelum Islam pun tidak pernah mengatakannya. Bah-kan ketika Al-Qur'an menanyakan siapa yang mengatur segala urusan, mereka menjawab: "Allah". Seperti ditegaskan dalam firmanNya:
    "Dan siapakah yang mengatur segala urusan? Mereka menja-wab 'Allah'." (Yunus: 31)

    Penulis pernah membaca kitab "Al-Kaafii Firrad alal Wahabi" yang pengarangnya seorang shufi. Di antara isinya adalah, "Sesung-guhnya Allah memiliki beberapa hamba yang bila mengatakan kepada sesuatu; Jadilah! Maka ia akan terjadi."
    Sungguh dengan tegas Al-Qur'an mendustakan apa yang ia dak-wahkan itu. Allah berfirman:
    "Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, "Jadilah!" maka terjadilah ia." (Yaasiin: 82)
    "Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah." (Al-A'raaf: 54)
     
  2. Syirik dalam ibadah dan do'a:

    Yaitu di samping ia beribadah dan berdo'a kepada Allah, ia beribadah dan berdo'a pula kepada para nabi dan orang-orang shalih.
    Seperti istighatsah (meminta pertolongan) kepada mereka, berdo'a kepada mereka di saat kesempatan atau kelapangan. Ironinya, justru hal ini banyak kita jumpai di kalangan umat Islam. Tentu, yang menanggung dosa terbesarnya adalah sebagian syaikh (guru) yang mendukung perbuatan syirik ini dengan dalih tawassul.

    Mereka menamakan perbuatan tersebut dengan selain nama yang sebenarnya. Karena tawassul adalah memohon kepada Allah dengan perantara yang disyari'atkan. Adapun apa yang mereka lakukan ada-lah memohon kepada selain Allah. Seperti ucapan mereka:

    "Tolonglah kami wahai Rasulullah, wahai Jaelani, wahai Badawi ..."

    Permohonan seperti di atas adalah ibadah kepada selain Allah, sebab ia merupakan do'a (permohonan). Sedangkan Rasulullah bersabda:

    "Do'a adalah ibadah." (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, hadits hasan shahih)
    Di samping itu pertolongan tidak boleh dimohonkan kecuali kepada Allah semata. Allah berfirman:
    "Dan (Allah) membanyakkan harta dan anak-anakmu," (Nuh: 12)
    Termasuk syirik dalam ibadah adalah "syirik hakimiyah". Yaitu jika sang hakim, penguasa atau rakyat meyakini bahwa hukum Allah tidak sesuai lagi untuk diterapkan, atau dia membolehkan diberlaku-kannya hukum selain hukum Allah.
     
  3. Syirik dalam sifat:

    Yaitu dengan menyifati sebagian makhluk Allah, baik para nabi, wali atau lainnya dengan sifat-sifat yang khusus milik Allah. Menge-tahui hal-hal yang ghaib, misalnya. Syirik semacam ini banyak terjadi di kalangan shufi dan orang-orang yang terpengaruh oleh mereka. Seperti ucapan Bushiri, ketika memuji Nabi:
"Sesungguhnya, di antara kedermawananmu adalah dunia dan kekayaan yang ada di dalamnya Dan di antara ilmumu adalah ilmu Lauhul Mahfuzh dan Qalam.

Dari sinilah kemudian terjadi kesesatan para dajjal (pembohong) yang mendakwakan dirinya bisa melihat Rasulullah  dalam keadaan jaga. Lalu –menurut pengakuan para dajjal itu– mereka menanyakan kepada beliau tentang rahasia jiwa orang-orang yang bergaul dengan-nya. Para dajjal itu ingin menguasai sebagian urusan manusia. Padahal Rasulullah  semasa hidupnya saja, tidak mengetahui hal-hal yang ghaib tersebut, sebagaimana ditegaskan oleh Al-Qur'an:
"Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku mem-buat kebajikan yang sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan." (Al-A'raaf: 188)

Jika semasa hidupnya saja beliau tidak mengetahui hal-hal yang ghaib, bagaimana mungkin beliau bisa mengetahuinya setelah beliau wafat dan berpindah ke haribaan Tuhan Yang Maha Tinggi? "Ketika Rasulullah mendengar salah seorang budak wanita mengatakan, 'Dan di kalangan kita terdapat Nabi yang mengetahui apa yang terjadi besok hari.' Maka Rasulullah berkata kepadanya,

"Tinggalkan (ucapan) ini dan berkatalah dengan yang dahulu-nya (biasa) engkau ucapkan'." (HR. Al-Bukhari)

Kepada para rasul itu, memang terkadang ditampakkan sebagian masalah-masalah ghaib, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah:

"(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada rasul yang diridhaiNya." (Al-Jin: 26-27)