Jumat, 09 Desember 2011

Mengembalikan Keikhlasan Kita




Dikisahkan bahwa di antara Bani Israil, ada seorang laki-laki yang ahli ibadah. Ia beribadah kepada Allah dalam masa yang lama. Kemudian datang orang-orang kepadanya. Mereka berkata,”Di sini ada suatu kaum yang menyembah pohon, bukannya kepada Allah SWT.” Maka ia marah mendengar itu. Kemudian ia mengambil kapak menyandangnya di atas pundaknya, dan menuju pohon itu untuk menebangnya. Kemudian iblis menyambutnya dalam bentuk seorang tua. Ia berkata,”Hendak kemana engkau?” Orang alim menjawab, “Aku hendak menebang pohon ini”. Iblis berkata, “Ada perlu apa engkau engkau dengan pohon itu?” Engkau tinggalkan ibadah dan kesibukanmu dengan dirimu dan memusatkan diri bukan untuk selain itu.” Orang alim berkata,”Sesungguhnya ini termasuk ibadahku.”
Iblis berkata, “ Aku tidak membiarkanmu untuk menebangnya “. Maka orang alim itu berkelahi dengan iblis dan membantingnya serta menduduki dadanya. Maka iblis berkata, “Lepaskan aku supaya aku bicara denganmu “.
            Orang alim itu berdiri meninggalkannya dan berkatalah iblis kepadanya, “ Hai orang ini, sesungguhnya Allah ta’ala telah menggugurkan kewajiban ini darimu dan tidak mewajibkannya atas dirimu. Engkau tidak menyembahnya, Allah ta’ala mempunyai Nabi-nabi di bumi. Andai kata Allah menghendaki, niscaya dia mengutus mereka kepada penduduk bumi dan menyuruh menebangnya “.
            Orang alim itu berkata, “ Pohon itu harus ditebang “, Iblis itu menyerangnya dan orang alim itu mengalahkannya dan membantingnya serta menduduki dadanya.
            Maka iblis tidak berkutik, kemudian iblis berkata kepadanya, “ Maukah engkau mendapatkan sesuatu yang memutuskan antara aku dan kamu, sedangkan ia lebih baik dan lebih berguna bagimu “. Orang alim itu menjawab,” apakah itu ?, Iblis menjawab, “ lepaskan aku supaya aku katakan kepadamu,” Maka orang alim itu melepaskannya.
            Iblis berkata, “ Engkau seorang laki-laki miskin yang tak punya apa-apa, engkau meminta-minta kepada orang yang memberimu nafkah, barang kali engkau ingin memberi saudara-saudaramu dan membantu para tetanggamu serta menjadi kenyang dan tidak membutuhkan orang-orang “.
            Orang alim menjawab, “ ya “. Iblis berkata, “Tinggalkan urusan ini dan aku akan meletakan didekat kepalamu setiap malam dua dinar, setiap pagi engkau mengambilnya, lalu engkau beri nafkah bagi diri dan anak-anakmu serta engkau berikan sedekah bagi saudara-saudaramu, hal itu lebih berguna bagimu dan kaum muslimin dari pada menebang pohon ini, yang tertanam ditempatnya dan tidak membahayakan mereka bila ia tebang.
            Penebang pohon ini tidak berguna bagi saudara-saudaramu orang muslimin. “Orang alim itu merenungkan perkataannya dan berkata, benarlah orang tua itu, aku bukanlah seorang Nabi yang wajib menebang pohon ini, dan Allah Ta’ala tidak menyuruhku untuk menebangnya sehingga aku tidak mendurhakainya jika meninggalkannya. Apa yang disebutnya itu lebih banyak manfaatnya “.
             Kemudian orang alim itu memintanya berjanji untuk menepati imbalan itu dan bersumpah, kemudian orang alim itu kembali ketempat ibadah. Keesokan paginya orang alim itu melihat dua dinar di dekat kepalanya, maka iapun mengambilnya, begitu pula esoknya. Kemudian diwaktu pagi hari ketiga tidak ada lagi uang itu didekat kepalanya, demikian pula di hari berikutnya ia tidak mendapatkan apa-apa, maka iapun marah lalu mengambil kampaknya dan menyandangnya di atas pundaknya.
            Kemudian iblis menyambutnya dalam bentuk orang tua, iblis berkata,” Hendak kemana engkau “?, Orang alim itu menjawab, “ Aku akan menebang pohon itu “. Iblis berkata , engkau berdusta, demi Allah, engkau tidak mampu melakukannya dan tidak ada jalan bagimu kepadanya”. Maka orang alim itu berusaha menebangnya untuk membantingnya seperti yang dilakukan pertama kali. Iblis berkata, “ Mustahil,” Kemudian iblis memegang dan membantingnya, ternyata orang alim itu seperti burung pipit di antara kedua kakinya dan iblis duduk diatas dadanya seraya berkata,” Berhentilah engkau dari perbuatan ini atau aku akan membunuhmu”.
            Orang alim itu memandang, ternyata ia tidak punya tenaga, ia berkata,” Hai orang ini,. Engkau telah mengalahkan aku, biarkan aku dan beritahulah aku bagaimana aku mengalahkanmu pertama kalinya dan engkau dapat mengalahkan aku sekarang “
            Maka iblis menjawab,” Karena pertama kalinya engkau marah karena Allah Ta’ala dan niatmu adalah akhirat, maka Allah Ta’ala menundukan aku bagimu. Kali ini engkau marah karena dirimu dan dunia, maka aku berhasil membantingmu “.
            Cerita di atas dinukil dari bab ikhlas dalam Ringkasan “Ihya Ulumudin” membereikan pelajaran bagi kita bahwa keikhlasan adalah modal utama dalam menjalani kehidupan ini. Realitas hari banyak orang yang menjalani profesinya dimulai dengan iklash, dengan motivasi hanya mengharap ridla Allah SWT. Tetapi di tengah-tengah perjalanan godaan syetan datang. Maka mereka tak sanggup lagi mempertahankan keikhlasannya. Oleh karena itu tak jarang orang yang alim, bergelar akademik tinggi, menjadi panutan masyarakat, memiliki semangat memberantas segala bentuk penyakit negara seperti Kolusi, Korupsi dan Nepotisme, tetapi akhirnya mereka terjerumus kedunia nista tersebut. Mereka lupa akan posisi dan misinya. Sehingga bukanlah kemanfaatan bagi dirinya sendiri, masyarakat, apalagi untuk bangsa dan negaranya. Legislatif memeras eksekutif ketika akan laporan pertanggungjawaban, mereka katakan sebagai konsekuensi. Eksekutif membuat mark up terhadap proyek di anggap hal biasa. Dosen menjual nilai kepada mahasiswa, mahasiswa ujian dengan mencontek, pedagang yang mengurangi timbangannya, masyarakat yang main hakim sendiri, merupakan fenomena yang kita saksikan sekarang.
            Oleh karena itu Ramadhan, yang berasal dari kata “ramadhz” yang artinya adalah membakar, puasa memiliki makna agar kita membakar seluruh sifat-sifat hayawaniyah dan syaithaniyah dengan mengembalikan sifat-sifat yang iklash. Dalam  firman Allah Ta’ala,” Kecuali hamba-Mu yang Mukhlis diantara mereka,”.(Q.S. Al- Hijr : 40 ). Adalah Ma’ruf memukul dirinya seraya berkata,” Hai nafsu, ikhlaslah supaya engkau selamat “. 
Mengembalikan “ikhlash”  berarti mengembalikan sifat-sifat Tuhan dalam diri kita. Sebab manusia adalah representasi Tuhan di dunia ini yang memiliki tugas khilafah untuk menciptakan keteraturan di dunia dan mempunyai tugas ibadah untuk mengabdi hanya kepada-Nya. Sehingga tujuan puasa membentuk manusia muttaqin dapat kita raih (QS:2: 183). Kita tidak akan memiliki nasib seperti seorang Bani Israil yang bertekuk lutut di hadapan syetan tetapi kita akan masuk kelompok orang sebagaimana dijanjikan Allah SWT dalam hadits Nabi,”Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan keimanan yang penuh, maka Allah akan mengempuni seluruh dosa-dosanya yang terdahulu”.***

Kamis, 08 Desember 2011

Menjaga, Konsistensi, Independensi, HMI



Outline Untuk Perubahan Di HMI


 Himpunan Mahasiswa Islâm (HMI) merupakan organisasi ektra universiter yang telah berusia 55 tahun. Sebuah usia yang sudah cukup tua, sebanding dengan usia kemerdekaan Indonesia.  Sebagai organisasi kemahasiswaan ektra universiter yang tertua  di Indonesia HMI telah menunjukan kiprahnya

dan mengalami berbagai dinamika sepanjang kiprahnya. Sebagai organisasi yang cukup tua di antara organisasi mahasiswa HMI memang perlu dikenang, dikaji, dan sekaligus diteladani nilai-nilai posisifnya. Kata kunci yang menarik untuk HMI dibanding dengan organisasi mahasiswa yang adalah :

1.       Latihan Kader di lingkungan HMI
2.       Tradisi Intelektualisme HMI;
3.       Independensi HMI

Dalam perjalanannya HMI setidaknya dalam catatan saya ada beberapa fase yang telah dilalui, yaitu :

1947 sampai dengan 1966

·         Organisasi yang bertujuan berkhidmat bagi umat Islam dan negara;
·         Memiliki idealisme  kepeloporan dan pamor yang cukup tinggi bagi bangsa; 
·         Para kadernya memiliki prestasi yang sangat membanggakan.

1966 sampai dengan 1970

·         Memiliki idealisme :  “dengan visi intelektualisme”
·         Gagasan modernisasi pemikiran Islam
·         Concern pada gerakan pembelaan kaum mustadafin baik ekonomi,              ekonomi maupun politik

                                Sehingga dengan realitas di atas  sampai tahun 1986 HMI dipandang sebagai organisasi yang berstatus dengan sebutan: “HMI berfungsi sebagai oragniasasi mahasiswa (ORMAH), HMI berfungsi sebagai organisasi kader (ORKER), dan HMI berfungsi sebagai organisasi perjuangan (ORPER).  Di sini HMI masih dipandang sebagai organisasi yang mampu memerankan independensinya.

HMI Hari Ini


                        Pada konggres HMI ke 23 di Balik Papan tahun 2002 HMI mendapat banjir kritikan yang berasal dari para kadernya, alumninya, dan juga dari para pemerhati  HMI. Setidaknya ada beberapa persoalan HMI yang dihadapi pada era reformasi ini:

1.       Lemahnya pengetahuan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan agama   Islam  para pengurus HMI dan sebagian anggotanya, yang menyebabkan terjadinya  demorilasasi di kalangan kader HMI;
2.       Menurunnya semangat Intelektualisme;
3.    HMI tidak independen lagi;
4.       Kurang mapannya pembentukan, peningkatan, dan pengelolaan sumber daya manusia (SDM);
5.       Manajemen Organisasi yang tidak solid dan ketinggalan zaman,  karena tidak sesuai dengan kebutuhan zaman.
6.       Terbatasnya sarana, prasarana, dan dana;
7.       Kurang mampu mengkonsolidasikan keberhasilan yang pernah dicapai;
8.       Lemahnya disiplin di kalangan anggota dan pengurus HMI.
9.       Kuranngya kesadaran historis di kalangan pengurus dan anggota HMI.

Agenda Menjaga Konsistensi Independensi

                                Dari berbagai kritik yang merupakan realitas yang harus diterima HMI, setidaknya HMI hari ini meminjam istilah Syafrudin Azhar (kompas, April 2002) bahwa HMI harus mampu mendeskripsikan lagi perjalanan organisasinya untuk dapat meningkatkan keunggulan komparatif sumber daya manusia (SDM) yang dimilikinya. Oleh karena itu dalam konteks ini HMI harus berupaya keras:

1.       Merebut kembali tradisi intelektualitas;
2.       NDP  bukanlah sekedar metode  yang hanya dikuasai tetapi tanpa pengamalan.
3.       Dalam situasi yang seba sulit untuk menentukan strategi gerakan, HMI sebaiknya memililih wilayah misi transformatif  dan misi korektif. Misi transformatif menekankan pada penyadaran sosial politik dan penularan gagasan dan ide demokrasi dan hak-hak asasi manusia. Sedangkan korektif menitikberatkan pada koreksi terhadap berbagai kebijakan dan sikap yang tidak menguntungkan rakyat banyak.  Berangkat dari isu-isu lokal populis dan menuju pada isu nasional yang kritis.
4.       HMI dari Social Change berubah menjadi Directing Social Change yaitu  pada awalnya HMI adalah sebagai pendobrak sekarang peran yang dibutuhkan adalah menjadi pengarah perubahan.  HMI must be a Social Engenering.

Pada akhirnya tujuan HMI bukanlah sebuah utopia tetapi  “kenyataan yang harus terimplementasikan dalam setiap denyut langkah kita.

Terbinanya Insan Akademis Pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT” (Anggaran Dasar HMI pasal 4)



Jumat, 25 November 2011

Filsafat Indonesia




Filsafat Indonesia adalah sebutan umum untuk tradisi kefilsafatan yang dilakukan oleh penduduk yang mendiami wilayah yang belakangan disebut Indonesia. Filsafat Indonesia diungkap dalam pelbagai bahasa yang hidup dan masih dituturkan di Indonesia (sekitar 587 bahasa) dan 'bahasa persatuan' Bahasa Indonesia, meliputi aneka mazhab pemikiran yang menerima pengaruh Timur dan Barat, disamping tema-tema filosofisnya yang asli.

Istilah Filsafat Indonesia berasal dari judul sebuah buku yang ditulis oleh M. Nasroen, seorang Guru Besar Luar-biasa bidang Filsafat di Universitas Indonesia, yang di dalamnya ia menelusuri unsur-unsur filosofis dalam kebudayaan Indonesia. Semenjak itu, istilah tersebut kian populer dan mengilhami banyak penulis sesudahnya seperti Sunoto, R. Parmono, Jakob Sumardjo, dan Ferry Hidayat. Sunoto, salah seorang Dekan Fakultas Filsafat di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, menggunakan istilah itu pula untuk menyebut suatu jurusan baru di UGM yang bernama Jurusan Filsafat Indonesia. Sampai saat ini, Universitas Gajah Mada telah meluluskan banyak alumni dari jurusan itu.

Para pengkaji Filsafat Indonesia mendefinisikan kata 'Filsafat Indonesia' secara berbeda, dan itu menyebabkan perbedaan dalam lingkup kajian Filsafat Indonesia. M. Nasroen tidak pernah menjelaskan definisi kata itu. Beliau hanya menyatakan bahwa 'Filsafat Indonesia' adalah bukan Barat dan bukan Timur, sebagaimana terlihat dalam konsep-konsep dan praktek-praktek asli dari mupakat, pantun-pantun, Pancasila, hukum adat, gotong-royong, dan kekeluargaan (Nasroen 1967:14, 24, 25, 33, dan 38). Sunoto mendefinisikan 'Filsafat Indonesia' sebagai ...kekayaan budaya bangsa kita sendiri...yang terkandung di dalam kebudayaan sendiri (Sunoto 1987:ii), sementara Parmono mendefinisikannya sebagai ...pemikiran-pemikiran...yang tersimpul di dalam adat istiadat serta kebudayaan daerah (Parmono 1985:iii). Sumardjo mendefinisikan kata 'Filsafat Indonesia' sebagai ...pemikiran primordial... atau pola pikir dasar yang menstruktur seluruh bangunan karya budaya... (Jakob Sumardjo 2003:116). Keempat penulis tersebut memahami filsafat sebagai bagian dari kebudayaan dan tidak membedakannya dengan kajian-kajian budaya dan antropologi. Secara kebetulan, Bahasa Indonesia sejak awal memang tidak memiliki kata 'filsafat' sebagai entitas yang terpisah dari teologi, seni, dan sains. Sebaliknya, orang Indonesia memiliki kata generik, yakni, budaya atau kebudayaan, yang meliputi seluruh manifestasi kehidupan dari suatu masyarakat. Filsafat, sains, teologi, agama, seni, dan teknologi semuanya merupakan wujud kehidupan suatu masyarakat, yang tercakup dalam makna kata budaya tadi. Biasanya orang Indonesia memanggil filsuf-filsuf mereka dengan sebutan budayawan (Alisjahbana 1977:6-7). Karena itu, menurut para penulis tersebut, lingkup Filsafat Indonesia terbatas pada pandangan-pandangan asli dari kekayaan budaya Indonesia saja. Hal ini dipahami oleh pengkaji lain, Ferry Hidayat, seorang lektur pada Universitas Pembangunan Nasional (UPN) 'Veteran' Jakarta, sebagai 'kemiskinan filsafat'. Jika Filsafat Indonesia hanya meliputi filsafat-filsafat etnik asli, maka tradisi kefilsafatan itu sangatlah miskin. Ia memperluas cakupan Filsafat Indonesia sehingga meliputi filsafat yang telah diadaptasi dan yang telah 'dipribumikan', yang menerima pengaruh dari tradisi filosofis asing. Artikel ini menggunakan definisi penulis yang terakhir.
Daftar isi
[sembunyikan]

    * 1 Mazhab Pemikiran
          o 1.1 Mazhab Etnik
          o 1.2 Mazhab Cina
          o 1.3 Mazhab India
          o 1.4 Mazhab Islam
          o 1.5 Mazhab Barat
          o 1.6 Mazhab Kristiani
          o 1.7 Mazhab Paska-Soeharto
    * 2 Referensi
          o 2.1 Referensi Bahasa Indonesia
          o 2.2 Referensi dalam Bahasa Inggris
    * 3 Pranala luar
    * 4 Lihat pula

[sunting] Mazhab Pemikiran

Ada 7 (tujuh) mazhab pemikiran yang berkembang di Indonesia. Kategorisasi mazhab didasarkan pada tiga hal: pertama, didasarkan pada segi keaslian yang dikandung suatu mazhab filsafat tertentu (seperti pada 'mazhab etnik'); kedua, pada segi pengaruh yang diterima oleh suatu mazhab filsafat tertentu (seperti 'mazhab Cina', 'mazhab India', 'mazhab Islam', 'mazhab Kristiani', dan 'mazhab Barat'), dan ketiga, didasarkan pada kronologi historis (seperti 'mazhab paska-Soeharto'). Berikut ini adalah sketsa mazhab-mazhab pemikiran dalam Filsafat Indonesia dan filsuf-filsuf mereka yang utama.

[sunting] Mazhab Etnik

Mazhab ini mengambil filsafat etnis Indonesia sebagai sumber inspirasinya. Asumsi utamanya ialah mitologi, legenda, cerita rakyat, cara suatu kelompok etnis membangun rumahnya dan menyelenggarakan upacara-upacaranya, sastra yang mereka hasilkan, epik-epik yang mereka tulis, semuanya melandasi bangunan filsafat etnis tersebut. ‘Filsafat’ ini tidak dapat berubah; ia senantiasa sama, dari awal-mula hingga akhir dunia, dan ia senantiasa merupakan ‘Yang Baik’. ‘Filsafat’ ini mengajarkan setiap anggota kelompok etnis tersebut tentang asal-mula lahirnya kelompok etnis itu ke dunia (bahasa Jawa, sangkan) dan tentang tujuan (telos) hidup yang akan dicapai kelompok etnis itu (bahasa Jawa, paran), sehingga anggotanya tidak akan sesat dalam hidup.

Mazhab ini melestarikan filsafat-filsafat etnis Indonesia yang asli, karena filsafat-filsafat itu telah dianut erat oleh anggota etnis sebelum mereka berhubungan dengan tradisi-tradisi filosofis asing yang datang kemudian.

Kebanyakan tokoh mazhab ini berasumsi bahwa orang Indonesia kontemporer berada pada posisi ‘buta’ terhadap nilai-nilai asli mereka. Jakob Sumardjo, misalnya, berpandangan bahwa banyak orang Indonesia sekarang yang …lupa melestarikan nilai-nilai asli mereka… dan …lupa masa-lalu, lupa asal-mula, mereka seperti orang hilang-ingatan… yang …mengabaikan sejarah nasional mereka sendiri… (Sumardjo 2003:23, 25). Akibatnya, mereka ‘terasingkan’; teralienasi dari ‘budaya-budaya ibu mereka’ (Sumardjo 2003:53). Gagalnya kebijakan pendidikan Indonesia, bagi Jakob, disebabkan oleh ‘kebutaan’ terhadap budaya asli Indonesia ini (Sumardjo 2003:58). Karena itu, misi penting dari mazhab filsafat ini ialah menggali, mengingat, dan menghidupkan-kembali nilai-nilai etnis yang asli, karena nilai-nilai merupakan ‘ibu’ (lokalitas adalah ibu manusia), sedangkan manusia ialah ‘bapak’ keberadaan (balita ialah bapak manusia) (Sumardjo 2003:22).

Berikut ini adalah beberapa pandangan filsosofis yang dianut mazhab ini:

    * Adat
    * Mitos asal-mula
    * Pantun
    * Pepatah
    * Struktur sosial adat

[sunting] Mazhab Cina

Para filsuf etnik masih menganut filsafat-filsafat mereka yang asli hingga kedatangan migrant-migran Cina antara tahun 1122-222 SM. yang membawa-serta dan memperkenalkan Taoisme dan Konfusianisme kepada mereka (Larope 1986:4). Dua filsafat asing itu bersama filsafat-filsafat lokal saling bercampur dan berbaur; begitu tercampurnya, sehingga filsafat-filsafat itu tak dapat lagi dicerai-beraikan (SarDesai 1989:9-13). Salah satu dari sisa baurnya filsafat-filsafat tadi, yang hingga kini masih dipraktekkan oleh semua orang Indonesia, adalah ajaran hsiao dari Konghucu (bahasa Indonesia, menghormati orangtua). Ajaran itu menegaskan bahwa seseorang harus menghormati orangtuanya melebihi apapun. Ia harus mengutamakan orangtuanya sebelum ia mengutamakan orang lain.

Mazhab Cina kelihatan eklusif, karena semata banyak dikembangkan oleh sedikit anggota etnis Cina di Indonesia. Meskipun demikian, filsafat yang disumbangkan oleh mazhab ini bagi tradisi kefilsafatan di Indonesia, sangat penting. Sun Yat-senisme, Maoisme, dan Neo-maoisme merupakan filsafat-filsafat penting yang menyebar-luas seantero Indonesia pada awal 1900-an, bersamaan dengan pertumbuhan Partai Komunis Indonesia (PKI) (Suryadinata 1990:15).

Filsuf-filsuf utama dari mazhab ini, di antara yang lainnya, adalah: Tjoe Bou San, Kwee Hing Tjiat, Liem Koen Hian, Kwee Kek Beng, dan Tan Ling Djie.

[sunting] Mazhab India

Pembauran atau difusi filsafat-filsafat terus berlanjut bersamaan dengan kedatangan kaum Brahmana Hindu dan penganut Buddhisme dari India antara tahun 322 SM-700 M. Mereka memperkenalkan kultur Hindu dan kultur Buddhis kepada penduduk asli, sementara penduduk asli meresponinya dengan menyintesa dua filsafat India itu menjadi satu versi baru, yang terkenal dengan sebutan Tantrayana. Ini jelas tercermin pada bangunan Candi Borobudur oleh Dinasti Sailendra pada tahun 800-850 M. (SarDesai, 1989:44-47). Rabindranath Tagore, seorang filsuf India yang mengunjungi Borobudur pertama kalinya, mengakui candi itu sebagai candi yang tidak-India, karena relik-relik yang dipahatkan padanya merepresentasikan pekerja-pekerja lokal yang berbusana gaya Jawa asli. Ia juga mengakui bahwa tarian-tarian asli Jawa yang terilhami dari epik-epik India tidak menyerupai tarian-tarian India, meskipun tarian-tarian dua negeri tersebut bersumber dari sumber yang sama.

Hindu dan Buddhisme—dua filsafat yang saling berlawanan di India—bersama-sama dengan filsafat Jawa asli dapat didamaikan di Indonesia oleh kejeniusan Sambhara Suryawarana, Mpu Prapanca, dan Mpu Tantular.

[sunting] Mazhab Islam

10-abad proses Indianisasi ditantang oleh kedatangan Sufisme Persia, dan Sufisme mulai mengakar dalam perbincangan kefilsafatan sejak awal tahun 1400-an hingga seterusnya. Perkembangan Sufisme itu dipicu oleh berdirinya kerajaan-kerajaan dan kesultanan-kesultanan Islam yang masif di Indonesia (Nasr 1991:262). Raja-raja dan sultan-sultan seperti Sunan Giri, Sunan Gunungjati, Sunan Kudus, Sultan Trenggono, Pakubuwana II, Pakubuwana IV, Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan ‘Alauddin Ri’ayat Syah, Engku Haji Muda Raja Abdullah Riau hingga Raja Muhammad Yusuf adalah raja-sufi; mereka mempelajari Sufisme dari guru-guru Sufi terkemuka (Perpustakaan Nasional 2001:12-39).

Sufisme di Indonesia dapat dibagi ke dalam dua kelompok: Ghazalisme dan Ibn Arabisme. Ghazalisme utamanya terinspirasi oleh ajaran-ajaran Al-Ghazali, sedangkan Ibn Arabisme dari doktrin-doktrin Ibn Arabi. Sufi-sufi dari jalur Al-Ghazali adalah seperti Nuruddin Al-Raniri, Abdurrauf Al-Singkeli, Abd al-Shamad Al-Palimbangi, dan Syekh Yusuf Makassar, sementara yang dari jalur Ibn Arabi adalah Hamzah Al-Fansuri, Al-Sumatrani, Syekh Siti Jenar, dan lain-lain (Nasr 1991:282-287).

Wahhabisme-Arab juga pernah diadopsi oleh Raja Pakubuwana IV dan Tuanku Imam Bonjol, yang misi utamanya ialah menghapus Sufisme dan menggantikannya dengan ajaran-ajaran Quranik (Hamka 1971:62-64).

Di saat Modernisme Islamik, yang memiliki program yaitu menyintesis ajaran-ajaran Islam dengan filsafat Pencerahan Barat, dimulai oleh Muhammad Abduh dan Jamaluddin Al-Afghani di Mesir tahun 1800-an, maka muslim-muslim di Indonesia juga mengadopsi dan mengadaptasinya. Ini nampak jelas dalam karya-karya yang dihasilkan oleh Syaikh Ahmad Khatib, Syaikh Thaher Djalaluddin, Haji Abdul Karim Amrullah, Kyai Ahmad Dahlan, Mohammad Natsir, Oemar Said Tjokroaminoto, Haji Agus Salim, Haji Misbach, dan lain-lain (Noer 1996:37).

[sunting] Mazhab Barat

Sejak pemerintah kolonial Belanda di Indonesia menerapkan ‘Politik Hati Nurani’ (Politik Etis) di awal tahun 1900-an, lembaga-lembaga pendidikan bergaya Belanda menjamur dimana-mana dan terbuka untuk anak-anak pribumi dari kelas-kelas feudal, yang hendak bekerja di lembaga-lembaga kolonial. Sekolah-sekolah berbahasa Belanda itu mengajarkan Filsafat Barat sebagai mata-pelajarannya. Misalnya, Filsafat Pencerahan—filsafat yang diajarkan secara amat terlambat di Indonesia, setelah 5 abad kemunculannya di Eropa (Larope 1986:236-238). Banyak alumni sekolah tersebut yang melanjutkan studi mereka di universitas-universitas Eropa. Mereka lantas muncul sebagai kelompok elit baru di Indonesia yang merupakan generasi pertama intelligentsia bergaya Eropa, yang kelak menganut Filsafat Barat untuk menggantikan filsafat etnik mereka yang asli.

Filsafat Barat mengilhami banyak lembaga sosio-politis Indonesia modern. Pemerintahan republik Indonesia, konstitusinya serta distribusi kekuasaan (distribution of power), partai politik dan perencanaan ekonomi nasional jangka-panjang, semuanya dilakukan atas model Barat. Bahkan ideologinya ``Pancasila’’ (tidak seperti yang disombongkan oleh Soekarno atau yang kemudian dimapankan oleh Soeharto), terinspirasi dari ideal-ideal Barat tentang humanisme, demokrasi-sosial, dan sosialisme nasional Nazi Jerman, seperti yang nampak dalam pidato-pidato anggota Badan Pemeriksa Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) tahun 1945 (Risalah Sidang 1995:10-79). Fakta ini menggiring pada kesimpulan, bahwa ‘Indonesia Modern’ dibangun di atas cetak-biru Barat.

Sangat menarik untuk diamati, bahwa meskipun elit itu menganut Filsafat Barat sepenuh hati, mereka masih merasa perlu mengadaptasikan filsafat itu kepada kegunaan dan situasi Indonesia yang kontemporer dan kongkrit. Misalnya, Soekarno, yang mengadaptasi demokrasi Barat dengan situasi rakyat Indonesia yang masih berjiwa feudalistik, sehingga ia menciptakan apa yang kemudian disebut Demokrasi Terpimpin (Soekarno 1963:376). D.N. Aidit dan Tan Malaka mengadaptasikan Marxisme-Leninisme dengan situasi Indonesia (Aidit 1964:i-iv; Tan Malaka 2000:45-56) dan Sutan Syahrir yang mengadaptasikan Demokrasi-Sosial dengan konteks Indonesia (Rae 1993:46).

[sunting] Mazhab Kristiani

Bersama-sama dengan pencarian kapitalis Barat akan koloni-koloni di Timur, Kristianitas mendatangi pedagang-pedagang Indonesia pada pertengahan abad 15 (Lubis 1990:78). Pertama-tama yang datang ialah pedagang-pedagang Portugis, lalu kapitalis-kapitalis Belanda yang berturut-turut menyebarkan Katolikisme dan Kalvinisme. Fransiskus Xavierus, pewarta Katolik pertama dari Spanyol yang menumpang kapal Portugis, menerjemahkan Credo, Confession Generalis, Pater Noster, Ave Maria, Salve Regina, dan Sepuluh Perintah Tuhan ke bahasa Melayu antara tahun 1546 sampai 1547, yang melaluinya Katolikisme dapat disebarluaskan kepada penduduk pribumi (Lubis 1990:85). Gereja-gereja Katolik pun didirikan dan penganut Katolik Indonesia berjejalan, namun tak lama kemudian mereka diusir dan dipaksa untuk pindah ke Kalvinisme oleh penganut-penganut Kalvinis Belanda yang datang ke Indonesia pada sekitar tahun 1596. Gereja-gereja Reformasi Belanda (Dutch Reformed Church) didirikan sebagai gantinya. Jan Pieterszoon Coen, salah seorang Gubernur-Jenderal VOC tahun 1618, adalah contoh dari penganut Kalvinis yang saleh. Beliau mendudukkan semua pewarta Kalvinis (yang dalam bahasa Belanda disebut Ziekentroosters) di bawah kendalinya (Lubis 1990:99).

Sekolah-sekolah Katolik bergaya Portugis-Hispanik dan lembaga-lembaga pendidikan Kalvinis bergaya Belanda terbuka untuk penduduk Indonesia asli. Tidak hanya diajarkan teologi di dalamnya, tapi juga Filsafat Kristiani (Christian Philosophy). Satu sekolah lalu menjadi beribu-ribu jumlahnya. Hingga kini masih ada (dan terus ada) universitas-universitas swasta Katolik dan Protestan yang mengajarkan ‘’Filsafat Kristiani’’ di dalamnya. Misioner-misioner dan pewarta-pewarta Injil dari Barat yang telah bertitel Master dalam bidang filsafat dari universitas Eropa, berdatangan untuk memberikan kuliah pada universitas Kristiani Indonesia (Hiorth 1987:4). Dari universitas-universitas tersebut keluarlah banyak lulusan yang menguasai ‘’Filsafat Kristiani’’, seperti Nico Syukur Dister, J.B. Banawiratma, Franz Magnis-Suseno, Robert J. Hardawiryana, J.B. Mangunwijaya, TH. Sumartana, Martin Sinaga, dan lain-lain.

[sunting] Mazhab Paska-Soeharto

Mazhab ini terutama mengedepan untuk mengritik kebijakan sosio-politik Soeharto selama masa kepresidenannya dari tahun 1966 hingga (akhirnya tumbang) pada 1998. Perhatian utama mereka ialah Filsafat Politik, yang misi utamanya ialah mencari alternatif-alternatif bagi rezim yang korup itu. Mazhab inilah yang berani menantang Soeharto, setelah ia berhasil membisukan semua filsuf lewat cara kekerasan. Sebelum kemunculan mazhab ini, telah ada beberapa orang yang mencoba melawan Soeharto di era 1970-an, namun mereka dipukul keras dalam insiden-insiden yang disebut sejarah sebagai Peristiwa ITB Bandung 1973 dan Peristiwa Malari 1974. Sejak praktek kekerasan itu, filsafat hanya dapat dipraktekkan dalam utopia; praksis dan inteleksi dipisahkan dari filsafat. Praksis dilarang, dan hanya penalaran yang mungkin bisa bertahan. Era Soeharto, dalam kacamata filsafat, dapat disebut sebagai ‘era candu filsafat’, dimana segala jenis dan segala mazhab filsafat dapat hidup tapi tak dapat dipraktekkan dalam kenyataan. Filsafat hanya menjadi ‘latihan akademis’ dan ditundukkan. Pancasila menjadi satu-satunya ideologi dan filsafat di era itu (tentunya, Pancasila yang ditafsirkan menurut kepentingan Soeharto, bukan Pancasila BPUPKI 1945) (Hidayat 2004:49-55).

Dalam ‘lingkaran setan’ rezim Soeharto muncullah pemberani-pemberani yang kelak memutuskan mata-rantai lingkaran itu, dan mereka disebut disini sebagai ‘filsuf paska-Soeharto’, di antaranya seperti: Sri-Bintang Pamungkas, Budiman Sudjatmiko, Muchtar Pakpahan, Sri-Edi Swasono, dan Pius Lustrilanang.